TribunBali/

Dukung Konservasi Penyu, Sharp Dirikan Instalasi Panel Surya di Pulau Sangiang

Selain ancaman alami seperti hewan predator biawak, hiu, burung, semut dan sebagainya, ancaman lain juga terjadi seperti hancurnya habitat

Dukung Konservasi Penyu, Sharp Dirikan Instalasi Panel Surya di Pulau Sangiang
Istimewa
PT SHARP Electronics Indonesia melalui program ‘SHARP Solar Panel Project’ mendukung kegiatan konservasi penyu di Banten 

TRIBUN-BALI.COM, BANTEN – Berdasarkan IUCN Red list, penyu menjadi salah satu reptile laut yang terancam punah.

Penyu merupakan hewan dengan tingkat harapan hidup yang sangat rendah, hanya sekitar 2% dari telur yang menetas dapat tumbuh menjadi penyu dewasa.

Selain ancaman alami seperti hewan predator biawak, hiu, burung, semut dan sebagainya, ancaman lain juga terjadi  seperti  hancurnya habitat karena perubahan iklim serta ekploitasi oleh manusia mulai dari pencurian telur, daging, karapas hingga tukiknya itu sendiri untuk diperdagangkan secara ilegal.

Bersama-sama dengan Yayasan Terangi ( Terumbu karang Indonesia ) dan BKSDA TWA Pulau Sangiang, PT SHARP Electronics Indonesia melalui program ‘SHARP Solar Panel Project’ mendukung kegiatan konservasi penyu di pulau ini dengan cara memfasilitasi kebutuhan mereka akan asupan tenaga listrik yang ramah lingkungan untuk dipergunakan pada sistem sirkulasi air ( running water system) berupa pompa, filter, dan jaringan pipa.

“SHARP memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap pelestarian lingkungan dan kenekaragaman hayati Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama, penyu merupakan hewan yang dilindungi dan sudah terancam punah keberadaannya di dunia. Melalui program ‘SHARP Solar Panel Project’ SHARP memberikan kontribusinya untuk melestarikan penyu agar anak-anak Indonesia di masa depan masih dapat mengenal dan melihat keberadaan penyu secara langsung tidak hanya melalui gambar”, ungkap Pandu Setio selaku PR, CSR & Promotion Manager  PT Sharp Electronics Indonesia.

Indonesia memiliki enam spesies penyu dari tujuh  spesies yang tercatat di dunia, yaitu penyu  hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata),  penyu  abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), serta penyu tempayan (Caretta caretta). Keenam penyu tersebut telah dilindungi secara penuh oleh Undang - Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Undang – Undang No. 31 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan Undang - Undang No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

Menteri Kelautan dan Perikanan pun telah mengeluarkan Surat Edaran No. 526/MEN-KP/VIII/2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya.

Pulau Sangiang yang terletak di Selat Sunda, merupakan kawasan tempat persinggahan migrasi penyu antara Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan untuk bertelur, dimana pada tanggal 8 Februari 1993 melalui SK Menteri Kehutanan No. 55/Kpts-II/1993 kawasan Pulau Sangiang ditetapkan menjadi Taman Wisata Alam dengan luas 528,15 ha. Lokasinya yang dekat dengan perkotaan dan lingkungan penduduk menjadikan telurtelur dikawasan ini rentan rusak dan dicuri. 

Dilatarbelakangi hal tersebut, Yayasan TERANGI bersama dengan BKSDA TWA Pulau Sangiang, berupaya untuk mengembangkan penetasan penyu di Pulau Sangiang sebagai sarana konservasi penyu.

Namun konservasi penyu di pulau ini bukanlah perkara yang mudah, minimnya asupan listrik menjadikan area konservasi tukik menjadi tidak optimal.

Halaman
12
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help