TribunBali/

Melongok Peninggalan Raja Bali di Bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat

Taman yang dibangun tahun 1727 oleh Anak Agung Ngurah Karangasem mempunyai luas 3 hektar yang digunakan sebagai tempat pemujaan

Melongok Peninggalan Raja Bali di Bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat
Tribun Bali/Rizal Fanany
Pura Meru Lombok 

TRIBUN-BALI.COM, MATARAM - Saat pagi menunjukkan pukul 10.00 Wita matahari sudah mulai terik, para pedagang menjajakan barang dagangannya di kawasan Pasar Cakra, kota Mataram, Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di luar luar pasar berjajar kios-kios penjual barang bekas. Di dalam pasar sendiri tak ubahnya seperti suasana pasar Badung, Denpasar, yang kini sedang dibangun kembali pascadilalap si jago merah beberapa waktu lalu.

Cidomo atau delman
Cidomo atau delman (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Aroma amis, jalan becek dan sampah menumpuk terlihat dibeberapa sudut pasar yang baunya cukup menyengat indera penciuman.

Lalu, tak jauh dari pasar terdapat Pura Meru yang bersebelahan dengan sebuah Masjid.

Di depan pasar terlihat cidomo berjajar menunggu penumpang, cidomo merupakan transportasi tradisional Lombok.

Pak Jhon seorang kusir menceritakan kuda yang dipakai cidomo rata-rata sudah tua, dulunya kuda-kuda tersebut digunakan sebagai balap kuda. Dia menunjukkan angka di paha kudanya.

"Ini dulu pernah saya buat balap di sumbawa" kata jhon yang dulu jadi joki. Untuk tarif naik cidomo mulai Dari 5000- 10000 rupiah, sesuai jauh dekat jarak tempuh.

Setelah Dari pasar kami pun menuju Taman Narmada yang berada di Desa Lembuak,Kabupaten Lombok Barat. Narmada diambil dari nama anak sungai Gangga di India yang berarti Mata air atau Sumber kehidupan.

Taman Narmada
Taman Narmada (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Taman yang dibangun tahun 1727 oleh Anak Agung Ngurah Karangasem mempunyai luas 3 hektar yang digunakan sebagai tempat pemujaan dan peristirahatan raja.

Di dalam taman terdapat dua Bale, yakni Bale Loji yang dulunya sebagai tempat tinggal raja dan istrinya.

Dan Bale terang bentuknya seperti rumah panggung di bagian bawah sebagai gudang dan atasnya terdapat 3 bagian, dua kamar di sisi utara dan selatan, di bagian tengah ruang terbuka yang menghadap Pura dan pemandian para selir.

pelancong di Lombok
pelancong di Lombok (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Di sebelah pemandian terdapat Balai Petirtaan yang airnya berasal dari Gunung Rinjani dan menjadi pertemuan tiga Sumber air, yakni Narmada ,Lingsar dan Suranadi.

Konon air ini dipercaya membuat awet muda. Untuk masuk ke dalam balai petirtaan wisatawan diharuskan memakai selendang warna kuning, wanita yang datang bulan dilarang memasuki balai.

Air yang bersumber dari Gunung Rinjani ini pun sangat dingin yang mempunyai kandungan mineral sangat tinggi. Air inipun bisa langsung di minum.

Taman peninggalan salah satu Raja Bali ini sudah dibuka untuk umum dan tempat rekreasi sejak jaman Belanda. Beberapa kali juga telah mengalami pemugaran. Taman Narmada ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan UU No.5 Tahun 1992. (*)

Penulis: Rizal Fanany
Editor: ady sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help