TribunBali/
Home »

Bali

Gunung Agung Terkini

Purnama Kapat, Mari Panjatkan Gayatri Mantram Tepat Pukul 12.00 Wita, di Mana pun Berada!

Pada hari H nanti, Sudiana mengatakan doa bersama tidak ada komando ataupun titik sentral.

Purnama Kapat, Mari Panjatkan Gayatri Mantram Tepat Pukul 12.00 Wita, di Mana pun Berada!
tribunbali/dewa dedy farendra
Ilustrasi persembahyangan bersama 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gunung Agung hingga saat ini masih berstatus Awas.

Belum ada satupun pihak yang bisa memastikan apakah gunung yang sempat meletus dahsyat pada 1963 itu akan meletus lagi atau tidak.

Itu sebabnya, Parisaha Hindhu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali menyerukan kepada seluruh krama Bali untuk menggelar doa bersama pada Purnama kapat, yakni pada Kamis (5/10/2017) pukul 12.00 Wita.

"Nanti pada tanggal 5 Oktober pukul 12.00 Wita siang, mari kita berdoa bersama dengan mengucapkan gayatri mantram, dan berdoa agar diberikan anugerah, keselamatan, dan perlindungan bagi seluruh alam semesta," kata Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, Selasa (3/10/2017).

Pada hari H nanti, Sudiana mengatakan doa bersama tidak ada komando ataupun titik sentral.

Masyarakat diminta berdoa baik secara mandiri atau berkelompok di masing-masing tempat suci, baik di pura Sad Kahyangan, Dang Kahyangan, Kahyangan Tiga, Pura Keluarga, Pura Kahyangan Jagad, Pura Swagina, tempat kerja, dan di manapun berada.

"Tidak ada komando-komandoan, dan tidak ada sentral. Yang mengomando adalah waktu. Begitu pukul 12.00 Wita, kita bersama-sama berdoa. Pertama agar gunung agung tidak jadi meletus; kedua kalaupun terjadi letusan, agar membawa kerahayuan atau kebaikan bagi seluruh penghuni alam ini," terang Sudiana.

Dia juga menerangkan bahwa doa bersama seluruh umat beragama akan menimbulkan vibrasi yang jauh lebih kuat daripada berdoa secara pribadi atau sendiri-sendiri.

Itu sebabnya, Sudiana mengajak pada Kamis 5 Oktober agar seluruh krama Bali, khususnya umat Hindu di Bali, untuk meluangkan waktu sejenak untuk mencakupkan tangan.

PHDI juga sudah mengeluarkan surat seruan kepada seluruh krama Bali, khususnya umat Hindu di Bali terkait doa bersama pada 5 Oktober itu.

Surat berisi catatan bahwa untuk sarana persembahyangan di pura diharapkan agar minimal menggunakan pejati.

Secara terpisah, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika mengatakan bahwa pada 5 Oktober nanti dirinya akan bersembahyang di Pura Besakih.

“Kalau masyarakat mau sembahyang ke Besakih, kita kan tidak bisa larang orang mau sembahyang. Tetapi begitu ada sirine (tanda bahaya) berbunyi, cepat pulang naik motor ke tempat aman. Siang (kemarin) ini saja kosong zona pengungsian itu. Pengungsi semua pulang ke tempat asalnya, GOR Swecapura kosong siang ini. Nanti pukul 18.00 Wita atau 19.00 Wita, mereka baru kembali. Kalau meletus kan semua bawa HP. Dengan motor dan mobil, mereka kan bisa turun cepat-cepat,” ucap Pastika ketika memberikan arahan kepada para pelaku bisnis pariwisata di Kantor Dinas Pariwisata Pemprov Bali, Denpasar, Selasa (3/10/2017).

Penjelasan Pastika itu untuk menenangkan para pelaku pariwisata bahwa kondisi Bali tidak seburuk yang dibayangkan dan diungkapkan oleh berita-berita yang seram terkait aktivitas Gunung Agung

Para pelaku pariwisata di Bali kini dalam kecemasan tinggi, karena peningkatan aktivitas Gunung Agung telah menimbulkan banyak pembatalan kunjungan.(*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help