TribunBali/

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia: Hasilnya Konsisten, Selalu Jokowi disusul Prabowo

Saat simulasi "head to head" layaknya pilpres 2014 lalu, Jokowi mendapatkan 58,9 persen suara responden dan Prabowo 31,3 persen

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia: Hasilnya Konsisten, Selalu Jokowi disusul Prabowo
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) menunggangi kuda usai mengadakan pertemuan di kediaman Prabowo Subianto, Bogor, Jawa Barat, Senin (31/10/2016). Pertemuan tertutup tersebut membahas berbagai macam persoalan, seperti masalah perekonomian, penegakan hukum, dan isu-isu yang tengah hangat saat ini. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

"Padahal Pak Prabowo belum kerja sama sekali. Masih di Hambalang. Pak Jokowi dari Aceh sampai Papua setahun terakhir, elektabilitasnya stabil. Jadi jangan terlalu yakin pemilu akan mudah dimenangkan oleh Pak Jokowi," kata Burhan.

Burhan menilai, tingginya elektabilitas Prabowo tidak terlepas dari basis pemilihnya pada 2014 lalu yang masih loyal hingga saat ini.

Apabila Prabowo terus bekerja meningkatkan elektabilitas hingga pilpres 2019 digelar, bukan tidak mungkin ia bisa menyalip Jokowi.

Burhan pun mengingatkan fenomena yang terjadi pada pilpres 2014 lalu. Pada Desember 2013, Indikator Politik juga membuat survei yang mengukur elektabilitas Jokowi dan Prabowo secara head to head.

Saat itu, Jokowi yang masih menjabat Gubernur DKI Jakarta memiliki elektabilitas sangat tinggi, yakni sekitar 60 persen. Sementara Prabowo hanya 27 persen.

Namun, elektabilitas Prabowo terus naik menjelang pilpres 2014 digelar.

Pada akhirnya, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa mampu meraup 48,66 persen suara dalam pilpres.

Sementara Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla hanya menang tipis di angka 51,34 persen.

"Prabowo punya rekor luar biasa. Bisa naikkan elektabilitas makin dekat dengan pemilu. Jadi jangan patah semangat dulu," kata Burhan.

Namun, Burhan juga menilai calon lain di luar Jokowi dan Prabowo masih memiliki peluang. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya responden yang tidak menentukan pilihan.

Saat tak diberi pilihan daftar nama, responden yang tak menjawab mencapai 47,4 persen. Saat simulasi head to head Jokowi vs Prabowo, angkanya juga masih cukup besar, yakni 9,8 persen.

"Ini artinya masih ada potensi untuk figur alternatif," ujar Burhan.

Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help