PT Hardys Retailindo Pailit

Kerajaan Bisnis Ritel Gede Hardi Pailit, Tak Pernah Menyangka 6 Hal Ini Sebab dan Akibatnya

Awal modal yang dibutuhkan Hardi untuk membangun Hardys hanya Rp 250 juta, yang ia dapatkan dari menjadi broker properti.

Kerajaan Bisnis Ritel Gede Hardi Pailit, Tak Pernah Menyangka 6 Hal Ini Sebab dan Akibatnya
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa/Istimewa
Suasana Supermarket Hardys di Panjer, Denpasar, Minggu (19/11/2017) siang. Di dalam supermarket tampak sepi pembeli dan hanya ada satu kasir. Inzet: I Gede Agus Hardiawan, Pemilik PT Hardys Retailindo 

Baca: Ternyata Cik Telah Melihat Tanda Hardys Akan Kolaps, Begini Pengakuannya

1.   Sikap ekspansifnya ini membawa petaka

Gede Hardi berhasil membangun kerajaan bisnis di bawah bendera PT Grup Hardys berawal sejak 11 Juli 1997 silam, yang dirintis setelah tamat dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sebelumnya ia sempat bekerja setahun di Toyota Motor.

Ia membuka toko pertama di Kota Negara, Kabupaten Jembrana, dengan ukuran 430 meter ukuran tanah x 1.400 meter ukuran bangunan.

Awal modal yang dibutuhkan Hardi untuk membangun Hardys hanya Rp 250 juta, yang ia dapatkan dari menjadi broker properti.

Berkembangnya Hardys sebagai ritel raksasa di Bali tak lepas dari sikap ekspansif Hardi dalam mengembangkan bisnisnya.

Karenanya setelah sukses di bisnis ritel, ia pun mengembangkan bisnisnya ke sektor properti.

Baca: Ekspansi ke Sektor Properti Jadi Awal Pailitnya Bisnis Gede Hardi, Ketua DPD REI Bali Ungkap Ini

Setidaknya ada 12 titik, seperti di Ubud, Dalung, Batubulan, By Pass Ida Bagus Mantra, dan lainnya untuk ekspansi Hardys ke sektor properti bernama Hardys Land.

Halaman
1234
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help