Gunung Agung Terkini

PVMBG Beberkan Ini Terkait Material Abu Vulkanik saat Erupsi Freatik

Curah hujan tinggi di permukaan kawah bukan menjadi faktor utama terjadinya erupsi freatik.

PVMBG Beberkan Ini Terkait Material Abu Vulkanik saat Erupsi Freatik
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Abu vulkanik masih terlihat di atap rumah warga dengan latarbelakang Gunung Agung di Desa Sibetan, Karangasem, Bali, Indonesia, Jumat (1/12/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Sampel material abu vulkanik yang jatuh saat erupsi freatik beberapa waktu lalu telah dikirim untuk dianalis di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi di Yogyakarta dan Bandung.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menyatakan, timnya telah melakukan penelitian secara internal.

Hasil hipotesis PVMBG menerangkan, bahwa erupsi tiga hari yang lalu merupakan erupsi freatik, karena tidak adanya kegempaan vulkanik yang besar terdeteksi di seismograf pos pengamatan Gunungapi Agung, Rendang, Karangasem, Bali.

"Sampai saat ini hipotesis kami adalah freatik karena kita tidak melihat ramp up (peningkatan) kegempaan vulkanik yang signifikan sebelum terjadinya erupsi," jelasnya, Sabtu (2/12/2017).

Pihaknya menerangkan, erupsi freatik merupakan uap dari magma yang berinteraksi secara langsung dengan air yang ada di bawah permukaan pada sistem hidrothermal.

Curah hujan tinggi di permukaan kawah bukan menjadi faktor utama terjadinya erupsi freatik.

"Hujan bukan pemicu utama erupsi, tapi hanya menambah volume air saja. Kalau memang hujan pemicu erupsi, seharusnya tiap musim hujan banyak gunung yang erupsi," ujar Devy.

Hasil analisis tim PVMBG menyebutkan bahwa erupsi freatik yang kemarin itu merupakan uap magma dengan volume cukup besar yang bergerak naik ke permukaan lalu berinteraksi dengan reservoir air.

"Karena tekanan yang dihasilkannya cukup besar maka kemarin mampu sedikit membuka celah ke permukaan," papar Devy.

Diberitakan sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengirim sampel material abu vulkanik beberapa waktu lalu saat terjadi erupsi freatik.

Sampel material abu dikirim ke Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi di Yogyakarta dan Bandung.

Kala itu, Devy Kamil Syahbana mengatakan, sampel tersebut untuk dianalisis kandungan partikel-partikelnya yang berada di abu.

Apakah mengandung material magma baru atau tidak.

Jika mengandung magma baru maka letusan pada tanggal 21 November 2017 silam merupakan erupsi freato-magmatik.

“Jika mengandung juvenile yang sangat signifikan, maka erupsi kemarin akan bernama freato-magmatik, jika juvenile tidak signifikan maka erupsi kemarin akan bernama freatik,” terang Devy saat itu. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved