TribunBali/
Home »

Bali

Pertemuan Pena NTT dan Kemendikbud di Bali Berlangsung Alot Hingga Berakhir Deadlock Gara-gara ini

Ari Santoso membantah statement yang ditulis harian nasional tersebut sebagai pernyataan Muhadjir dan mengklaim memiliki rekaman wawancara

Pertemuan Pena NTT dan Kemendikbud di Bali Berlangsung Alot Hingga Berakhir Deadlock Gara-gara ini
Istimewa
Suasana pertemuan Pena NTT dan Kemendikbud di Restoran Center Point, Renon, Denpasar, Kamis (7/12/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Setelah perhimpunan wartawan asal NTT di Bali yang tergabung dalam komunitas Pena NTT menggelar aksi mengecam pernyataan Mendikbud RI Muhadjir Effendy, mendapat respon dari pihak Kemendikbud.

4 orang anggota yang dipimpin Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (BKLM Kemendikbud) Ari Santoso menemui anggota Pena NTT di Restoran Center Point, Renon, Denpasar, Kamis (7/12/2017).

Pena NTT mengecam pernyataan Muhadjir yang dimuat dalam sebuah harian nasional pada tanggal 4 Desember 2017.

Dalam pernyataannya, Mendikbud menduga sample dari survey Program for International Students Assesement (PISA) terkait pendidikan di Indonesia adalah siswa-siswi asal NTT.

Dalam survey lembaga UNESCO itu, Indonesia menempati posisi terbawah secara dunia.

"Saya khawatir yang dijadikan sample Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semua" demikian kutipan langsung yang ditulis harian nasional itu.

Setibanya, Ari Santoso dan jajaran langsung melakukan dialog dengan PENA NTT.

Ari Santoso membantah statement yang ditulis harian nasional tersebut sebagai pernyataan Muhadjir dan mengklaim memiliki rekaman lengkap wawancara itu.

Namun, saat didesak untuk menunjukkan rekaman maupun transkrip wawancara, perwakilan Kemendikbud tak mampu memenuhi permintaan tersebut.

Hal itu pun memantik reaksi para anggota Pena NTT.

“Jika tidak ada transkrip atau rekaman tersebut, maka tidak ada gunanya pertemuan ini. Bubarkan saja, kita jadwalkan lagi pertemuan, setelah Kementerian memperdengarkan rekaman pernyataan Mendikbud dan transkripnya,” ucap San Edison, salah satu anggota Pena NTT.

“Sejak awal, Pak Kepala Biro BKLM Kemendikbud mengaku memiliki rekaman pernyataan Pak Menteri secara utuh. Karena itu, supaya tidak ada dusta di antara kita, sebelum kita bahas lebih jauh, silahkan putar rekaman utuh tersebut, supaya kita sama-sama bedah. Jika tidak, kita akhiri pertemuan ini karena tidak akan ada hasilnya,” tegas Ambros Boli, jurnalis ABC News yang juga tergabung dalam Pena NTT.

Pertemuan tersebut pun berakhir deadlock. Pihak Kemendikbud berjanji akan kembali menemui Pena NTT dengan membawa rekaman serta transkrip lengkap wawancara Muhadjir dengan wartawan media nasional tersebut.

"Kami minta waktu hingga Selasa (12/12/2017)," kata salah seorang staf Kemendikbud, yang hadir dalam pertemuan tersebut. (*)

Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help