TribunBali/

Trump Akui Jerusalem Sebagai Ibukota Israel, Mengapa Ini Menjadi Sangat Kontroversial?

Keputusan Trump bakal memicu aksi demonstrasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan di kedutaan dan konsulat AS.

Trump Akui Jerusalem Sebagai Ibukota Israel, Mengapa Ini Menjadi Sangat Kontroversial?
(AFP/Marina Passos)
Foto arsip yang diambil pada 11 Januari 2010 menunjukkan pemandangan udara Kota Tua Yerusalem. 

Mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel juga selangkah lebih maju untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem yang semakin mempererat Israel berdaulat atas kota tersebut.

Pemindahan Kedubes AS ke Jerusalem bisa saja menjadi mudah karena AS juga menempatkan konsulatnya di Jerusalem, sementara gedung kedutaan berada di Tel Aviv.

Namun, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Pemindahan Kedubes AS berisiko menyulut krisis diplomatik dengan negara Arab, termasuk protes massa yang meluas di luar gedung Kedubes AS di negara-negara tersebut.

Presiden Trump melakukan lawatan ke Timur Tengah belum lama ini dan bertemu dengan pemimpin Arab Saudi dan Mesir, dua dari tujuh negara yang sekarang memutus hubungan dengan Qatar.
Presiden Trump melakukan lawatan ke Timur Tengah belum lama ini dan bertemu dengan pemimpin Arab Saudi dan Mesir, dua dari tujuh negara yang sekarang memutus hubungan dengan Qatar. (EPA)

Pengakuan ini akan menggulingkan 70 tahun konsensus internasional terkait Jerusalem.

Di sisi lain, pengakuan itu secara efektif akan memberi sinyal mengakhiri upaya mencapai perdamaian antara Israel dan Palestina.

Sejak 1995, Kongres AS mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan AS memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Jerusalem.

AS dianggap harus menghormati pilihan Israel atas Jerusalem sebagai ibu kotanya.

Namun, mantan Presiden AS, seperti Bill Clinton, George W Bush, dan Barack Obama, menolak memindahkan kedutaan tersebut dengan alasan kepentingan keamanan nasional.

Keputusan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem terus diperbarui setiap enam bulan sekali.

Halaman
1234
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help