Trump Akui Jerusalem Sebagai Ibukota Israel, Mengapa Ini Menjadi Sangat Kontroversial?

Keputusan Trump bakal memicu aksi demonstrasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan di kedutaan dan konsulat AS.

Trump Akui Jerusalem Sebagai Ibukota Israel, Mengapa Ini Menjadi Sangat Kontroversial?
(AFP/Marina Passos)
Foto arsip yang diambil pada 11 Januari 2010 menunjukkan pemandangan udara Kota Tua Yerusalem. 

Jerusalem Timur

PBB menyusun rencana pemisahan Jerusalem sebagai "kota internasional" yang terpisah pada 1947.

Namun, perang yang diikuti dengan deklarasi kemerdekaan Israel satu tahun kemudian membuat kota ini terbagi.

Ketika pertempuran berakhir pada 1949, perbatasan gencatan senjata yang sering disebut Jalur Hijau karena digambar dengan tinta hijau terlihat Israel menguasai bagian barat dan Jordania menguasai bagian timur, termasuk Kota Tua Jerusalem yang terkenal.

Pada perang enam hari di 1967, Israel menempati Jerusalem Timur.

Sejak itu, seluruh kota berada di bawah kekuasaan Israel. Namun, rakyat Palestina dan komunitas internasional terus berupaya agar Jerusalem Timur menjadi ibu kota masa depan Palestina.

Sebanyak 850.000 orang tinggal di Jerusalem yang terdiri dari 37 persen orang Arab dan 61 persen orang Yahudi.

Populasi orang Yahudi termasuk 200.000 Yahudi Ortodoks, sementara orang Arab Kristen hanya 1 persen dari populasi.

Kebanyakan warga Palestina tinggal di Jerusalem Timur yang juga bertetangga dengan Israel dan Arab di Jerusalem.

Hasil pencarian Palestina di Google Maps, Rabu (10/8/2016)
Hasil pencarian Palestina di Google Maps, Rabu (10/8/2016) (Google)

Sebelum 1980, banyak negara yang menempatkan duta besarnya di Jerusalem, termasuk Belanda dan Kosta Rika.

Halaman
1234
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help