TribunBali/

Selama 2017, 20 Nyawa Melayang di Laut, Terbanyak di Pantai Kuta, Pria ini Ungkap Penyebabnya

Dengan jumlah total sebanyak 20 orang meninggal dunia akibat tenggelam dilaut karena terseret ombak

Selama 2017, 20 Nyawa Melayang di Laut, Terbanyak di Pantai Kuta, Pria ini Ungkap Penyebabnya
Tribun Bali / Zaenal Nur Arifin
Seorang wisatawan asing hilang saat melakukan surfing di Pantai Kuta pada Senin (24/7/2017) kemarin sore. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Selama setahun kasus kecelakaan laut di wilayah hukum Polresta Denpasar hingga bulan Desember 2017 tercatat ada sebanyak 16 kasus Laka Laut yang menyebabkan korban meninggal dunia. 

Dalam kasus tersebut kebanyakan korbannya adalah wisatawan mancanegara dan sisanya wisatawan domestik.

Dengan jumlah total sebanyak 20 orang meninggal dunia akibat tenggelam dilaut karena terseret ombak. 

Kasat Polair Polresta Denpasar, Kompol I Ketut Suparta mengatakan, dalam satu kasus laka laut rata-rata menimbulkan satu korban jiwa yang kebanyakan berada di kawasan pantai terutama di Pantai Kuta

"Yang paling banyak di daerah Kuta, kemudian Nusa Dua korbannya wisatawan, kebanyakan korban tenggelam terseret arus," kata Kompol I Ketut Suparta kepada Tribun Bali, Kamis (14/12). 

Menurut Suparta, banyak wisatawan yang sedang berlibur terutama di daerah Kuta tidak mematuhi peraturan saat mereka sedang berenang menikmati liburannya. 

Padahal di Pantai Kuta sudah banyak peraturan yang tertera di papan informasi, dan di lautnya sudah dipasang bendera merah sebagai batasan wisatawan untuk berenang.

Namun tetap saja masih ada yang melanggar peraturan yang berlaku. 

Tidak hanya itu, saat ini kondisi cuaca sedang tidak bagus di akhir tahun 2017 sehingga bisa menyebabkan peristiwa yang tidak diinginkan kalau tidak berhati-hati saat berenang dikawasan pantai. 

"Menyikapi cuaca yang tidak menentu terkadang hujan disertai angin kencang. Diimbau kepada masyarakat pantai khususnya nelayan agar lebih berhati-hati, kalaupun terpaksa melaut  agar melengkapi diri dengan alat-alatk keselamatan," jelasnya. 

Sat Polair Polresta Denpasar telah berkoordinasi dengan balawista untuk memperhatikan kondisi dan memasang papan informasi serta tanda area berbahaya agar tidak terjadi korban berikutnya. 

"Kita mengimbau mematuhi peraturan-peraturan kalau memang lokasi tidak boleh berenang ya jangan berenang, kita juga sudah koordinasi dengan pihak terkait untuk pengamanan tempat wisata," tutupnya.

Dari total kasus laka laut yang terjadi, pada tahun ini bisa dibilang mengalami penurunan walaupun belum genap setahun dengan 16 kasus yang terjadi, sementara di tahun lalu terdapat cukup banyak, sekitar 21 kasus laka laut pada 2016. 

Untuk mengantisipasi, Polair Polresta Denpasar bersama pihak terkait mensiagakan personilnya dibeberapa titik-titik rawan yang banyak dikunjungi wisatawan.

Dengan upaya ini diharapkan bisa menekan angka kasus atau kejadian laka laut. (*)

Penulis: Fauzan Al Jundi
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help