TribunBali/

Citizen Journalism

Terapkan Konsep Wana Kertih di Hutan Mangrove untuk Perubahan Iklim

Aksi yang dilakukan Mangrove for Love ini dikemas secara tertata di rawa-rawa seluas 300 meter persegi di Tuban, Bali.

Terapkan Konsep Wana Kertih di Hutan Mangrove untuk Perubahan Iklim
Istimewa
Mangrove for Love 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mangrove for Love merupakan suatu gerakan anak muda yang sadar mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Mangrove sebagai vegetasi hutan di bagian hilir memiliki peran dalam memperlambat laju perubahan iklim dan sumber perekonomian rakyat.

Aksi yang dilakukan Mangrove for Love ini dikemas secara tertata di rawa-rawa seluas 300 meter persegi di Tuban, Bali. Sudah ada 4.500 bibit mangrove yang ditanam sejak tahun 2015, namun yang hidup sekarang tak lebih dari sepertiganya.

Tim edukasi Mangrove for Love setiap satu bulan sekali mengadakan diskusi ke peserta volunteer tentang manfaat hutan mangrove dan isu terkini khusus lingkungan mangrove.

Kerjasama dengan pihak akademisi pernah dilakukan bersama siswa SD, SMP dan SMA, dosen Politeknik Negeri Bali, kandidat doktor Massachusetts Institute of Technology, Universitas Udayana dan komunitas muda baik yang fokus ke lingkungan maupun tidak. Semuanya saling bersinergi belajar dan meneliti tentang hutan mangrove bersama Mangrove for Love.

Masyarakat Bali percaya bahwa kunci dari terjadinya kesejahteraan itu ada dua yaitu kesucian dan keseimbangan. Kedua hal ini tertuang dalam Wana Kertih yang merupakan bagian dari Sad Kertih yaitu enam konsep pelestarian lingkungan dalam ajaran Hindu. Wana Kertih merupakan upaya untuk melestarikan hutan.

Dalam Pancawati diajarkan tentang tiga fungsi hutan hingga dapat membangun hutan yang lestari yang disebut Wana Astri yang dibagi menjadi Maha Wana, Tapa Wana dan Sri Wana.

Ketiga konsep itu memiliki andil dalam perwujudan bahwa hutan merupakan paru-paru dunia. Begitu pula dengan aksi yang dilakukan oleh tim Mangrove for Love itu masuk dalam Maha Wana.

Gerakan anak muda yang anggotanya disebut volunteer ini terlihat konsisten mengadakan piket pembersihan hutan mangrove setiap minggu. Ini jelas untuk menjaga hutan mangrove tetap pada fungsinya.

Tapa Wana yang menjadikan hutan sebagai tempat belajar. Memang dalam esensinya dulu Tapa Wana ini mengajak manusia untuk menjaga kesucian hutan karena sering dipakai tempat bersemedi para Rsi. Namun juga sebagai asrama yang mengajak para murid belajar di sana.

Kalau dikaitkan dengan zaman modern ini, Tapa Wana ini tetap bisa diamalkan dalam proses pembelajaran saat mengetahui manfaat hutan mangrove, maka dengan sendirinya bangkit rasa peduli dan ingin menjaga kesucian dan kebersihan hutan mangrove.

Halaman
12
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help