Bali Paradise

Ngeri Sedap Meluncur di Jurang Mahapraja Desa Peninjoan, Wisata Baru Hanya Rp 10 Ribu untuk Masuk

Tegalan yang awalnya hanya berupa bet (rerimbunan) disulap menjadi area rekreasi yang menarik.

Ngeri Sedap Meluncur di Jurang Mahapraja Desa Peninjoan, Wisata Baru Hanya Rp 10 Ribu untuk Masuk
Tribun Bali/Ni Putu Diah Paramitha Ganeshwari
Flying Fox 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Bagi penggemar outbond, Mahapraja dapat menjadi lokasi yang tepat untuk beraktivitas. Mereka memiliki fasilitas berupa flying fox yang dapat Anda coba. Permainan ini mengajak Anda meluncur di atas jurang dengan ketinggian sekitar 40-50 meter.

Untuk Anda yang pertama kali mencoba flying fox, deg-degan barangkali lumrah dirasakan.

Dari atas titik peluncuran, ketinggian jurang tampak membuat bibir kering hingga menelan ludah. Meskipun peralatan keselamatan sudah dipasang, tetap saja ada rasa ngeri untuk peluncuran pertama.

Namun ketika sudah meluncur, bayangan ketakutan itu seakan lepas, berganti perasaan asyik. Peluncuran yang hanya terasa sekejap itu meninggalkan kesan berharga. Kegiatan ini pun pantas dicoba bagi setiap pengunjung Mahapraja.

()

Selesai berjalan-jalan pun, Anda bisa mengunjungi warung sederhana yang sudah disiapkan untuk minum dan makan.

“Saat ini Mahapraja masih dalam masa soft opening. Kami ingin merampungkan beberapa bagian lagi, seperti eco house, tempat pengelukatan, termasuk jurang di bawah flying fox agar terlihat lebih tertata,” ucap Indra, penggagas sekaligus pemilik Mahapraja.

Ia berharap agar setelah semuanya rampung, pengunjung akan dapat merasa lebih santai dan nyaman berada di tempat ini. Aktivitas yang bisa dilakukan pun semakin banyak.

Indra pun berkata keberadaaan Mahapraja ini tidak lepas dari dukungan dari berbagai pihak.

“Kami senang sebab pihak Kecamatan Tembuku sangat mendukung kegiatan wisata di tempat ini. Antusias pengunjung untuk datang dan mempromosikan tempat ini pun kami sangat apresiasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, “alam di desa kami memiliki potensi yang besar. Sekarang tinggal bagaimana kami sebagai masyarakat mengelolanya, memanfaatkan segala potensi yang kami punya,” begitulah pemikiran Ketut Nuaji Indra, warga Banjar Puraja, Desa Peninjoan, Bangli.

Halaman
1234
Penulis: Ni Putu Diah paramitha ganeshwari
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help