Home »

Bali

Inspirasi

Kadek Sudanca Bisa Menghasilkan Rp 50 Juta per Bulan dari Akar Bambu, Ini Kreativitasnya!

Berbeda dengan kerajinan pahat lainnya, patung buatan I Kadek Sudanca ini, lebih memanfaatkan akar bambu sebagai bahan dasarnya.

Kadek Sudanca Bisa Menghasilkan Rp 50 Juta per Bulan dari Akar Bambu, Ini Kreativitasnya!
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Kadek Sudanca menunjukkan kerajinan patung dari akar pohon jeruk setinggi 2 meter di bengkel kerjanya, Bangli, Rabu (10/1/2018) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Sejumlah topeng berbentuk wajah manusia, hingga patung berbagai ukuran terlihat memenuhi lantai bengkel kerja milik I Kadek Sudanca yang terletak di Banjar Sribatu, Desa Penglumbaran, Susut, Bangli, Rabu (10/1/2018).

Berbeda dengan kerajinan pahat lainnya, patung buatan I Kadek Sudanca ini, lebih memanfaatkan akar bambu sebagai bahan dasarnya.

Ditemui Tribun Bali, I Kadek Sudanca terlihat masih sibuk memahat akar bambu yang telah dirangkai, setinggi 1 meter lebih.

Pria berusia 40 tahun ini tak segan-segan memahat akar bambu tersebut untuk dijadikan karya seni patung pesanan dari negara Inggris.

Sudanca mengatakan, usaha kerajinan akar bambu ini telah dimulai sejak akhir tahun 1999 silam, dengan memanfaatkan akar bambu yang jarang digunakan sebagian besar orang ini, dirinya mencoba mengasah kreatifitasnya untuk membuat sesuatu yang berbeda.

Di luar dari dugaannya, kerajinan tersebut ternyata diminati banyak orang, bahkan hingga kini, pemasaran akar bambu telah mencapai pasar Eropa, dan memiliki omset bulanan sebesar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta.

“Kebanyakan diminati di pasar luar negeri, seperti Costa Rica, Ceko, Inggris, Amerika, dan beberapa negara lain. Untuk barang yang banyak dipesan seperti topeng-topeng tua layaknya replika wajah yesus. Jika pasar lokal lebih pada pewayangan, seperti hanoman, dan lain sebagainya,” ucap dia.

Beber Sudanca, pemasaran dilakukan secara online, sehingga ketika terjadi bencana Gunung Agung seperti beberapa saat lalu, tidak terlalu berpengaruh pada omset penjualan, khususnya bagi mereka yang telah menjadi pelanggan tetap dari Benua Eropa.

“Yang susah adalah untuk mencari calon pelanggan baru. Karena kebanyakan tamu mancanegara, lebih suka melihat secara langsung ke bengkel kerja, daripada melalui artshop. Sehingga pada saat penutupan bandara beberapa saat lalu, agak berdampak juga karena sepi tamu yang datang,” ucapnya.

Tak hanya dengan media akar bambu, dalam jangka waktu setahun belakangan ini, Sudanca bahkan mengembangkan kerajinan ukirnya menggunakan media lain, berupa akar pohon jeruk.

Ukiran pohon jeruk ini belum banyak dikenal, bahkan baru satu-satunya.

Sama halnya dengan awal mula pembuatan patung menggunakan akar pohon bambu, awal mula pembuatan patung dengan media akar pohon jeruk lantaran inspirasi yang tiba-tiba merasuk ke pikirannya, sehingga dirinya iseng membuat ukiran dari pohon jeruk berusia 50 tahun yang ditemuinya.

Dan ternyata saat di lempar ke pasaran, kerajinan dengan akar pohon jeruk juga diminati oleh pelangan.

Sehingga kini pihaknya terus membuat kerajinan menggunakan akar pohon ini.

“Sama dengan akar bambu, kerajinan dari pohon jeruk berupa patung dan topeng. Yang membedakan adalah lama pembuatannya. Jika akar pohon bambu dalam satu hari bisa menghasilkan 5 kerajinan, namun jika akar pohon jeruk hanya dua kerajinan. Sebab tekstur kayunya lebih kuat dan keras,” jelasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help