TribunBali/

Sosok ini Tegaskan Pilkada 2018 Harus Dimenangkan 'Tunggal Sabahita', Ini Penjelasannya

Puja Kessuma adalah organisasi yang terbuka bagi etnis dan agama apa pun, yang penting mencintai budaya dan nilai-nilai Jawa

Sosok ini Tegaskan Pilkada 2018 Harus Dimenangkan 'Tunggal Sabahita', Ini Penjelasannya
Istimewa
Ketua Umum Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Puja Kessuma) Suhendra Hadi Kuntono. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA – Ketua Umum Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Puja Kessuma) Suhendra Hadi Kuntono menyerukan kepada warga teturunan Jawa yang lahir di Sumatera, Sulawesi dan Maluku, yang tersebar di seantero Nusantara, untuk memenangkan calon gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota yang senasib sepenanggungan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang akan digelar serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia, Rabu (27/6/2018).

“Dengan memegang teguh falsafah 'tunggal sabahita' atau tunggal sekapal," ungkap Suhendra di Jakarta, Kamis (11/1/2019).

“Tunggal”, jelas Suhendra, ialah satu, dan “sabahita” adalah perahu atau kapal laut, sehingga “tunggal sabahita” berarti kebersamaan dalam satu kapal.

Replika “Bahita” terpahat di relief Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Suhendra lalu merujuk sejarah orang-orang Jawa yang “dibuang” ke Sumatera oleh pemerintah kolonial Belanda secara bergelombang sejak 1880 menggunakan kapal laut untuk kerja paksa.

Di Sumatera, dan kemudian juga di Sulawesi, Maluku dan pulau-pulau lain di Indonesia, bahkan sampai ke Semenanjung Malaya dan Madagaskar, mereka beranak-pinak, dan memiliki ikatan persaudaraan yang tinggi untuk bertahan hidup (survive) di perantauan, dan rasa persaudaraan itu sama seperti saudara kandung yang kemudian diturunkan ke anak-cucu.

“Kita selalu merasa senasib sepenanggungan, ibarat berada di sebuah kapal,” jelas keturunan Jawa kelahiran Medan, Sumatera Utara, 50 tahun lalu ini.

Sebagai bangsa yang hidup di negeri maritim, kata Suhendra, nenek-moyang kita memang dikenal sebagai pelaut ulung. Sebab itu, "sabahita" pun dimaknai sebagai hidup mati bersama, apa pun masalahnya harus dihadapi bersama. Apa pun permasalahan antar-pribadi yang muncul di atas "sabahita", harus diselesaikan di daratan, jangan sampai mengganggu kebersamaan mereka di lautan.

“Pemimpin yang menghayati makna ‘tunggal sabahita’ akan mampu membawa rakyat ke pulau harapan,” cetus Suhendra yang juga mantan Ketua Tim Penyelesaian Pelanggaran HAM Indonesia-Vietnam.

“Ciri khas Puja Kessuma adalah gotong-royong, ikatan persaudaraan yang kuat, dan daya survival yang tinggi. Untuk itu, pilihlah kepala daerah yang memiliki sifat demikian, apa pun etnis dan agamanya,” tukas Suhendra sambil menambahkan bila bicara Puja Kessuma maka sama sekali tidak bermuatan primordialisme atau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Sebab, Puja Kessuma adalah organisasi yang terbuka bagi etnis dan agama apa pun, yang penting mencintai budaya dan nilai-nilai Jawa seperti andhap asor (sopan santun), gotong-royong, tepa selira (persaudaraan), kerukunan, senasib sepenanggungan, dan sebagainya.

“Kepala daerah yang andhap asor, tepa selira, daya survival-nya tinggi dan suka gotong-royong tentu akan sangat mampu membangun daerah dan rakyatnya,” lanjut dia.

Untuk itu, ia tidak mau menunjuk calon kepala daerah mana yang Puja Kessuma, karena yang lebih penting adalah mereka mampu mengimplementasikan makna “tunggal sabahita”. “Syukur-syukur bila secara biologis mereka memang Puja Kessuma,” terangnya.

Potensi Puja Kessuma untuk memenangkan kandidat dalam pilkada, lanjut Suhendra, cukup besar. Di Sumatera, jumlah keturunan Jawa mencapai lebih dari 50% penduduk. “Ini bargaining position (posisi tawar) yang luar biasa. Kalau kompak, kita akan menang,” paparnya.

“Sekali lagi, ini bukan soal primordialisme atau SARA. Sebagai warga negara yang punya hak pilih, boleh dong kita punya aspirasi tentang kriteria pemimpin. Apa pun etnis dan agamanya, asal kandidat itu menghayati makna ‘tunggal sabahita’, ia akan mampu menjadi nahkoda yang baik, sehingga kita pilih,” tandasnya.

Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help