Home »

Bali

Wayan Mustara Sering Mengamuk dan Tega Pukuli Ayahnya, Pernah Berulangkali Bakar Rumah

Wayan Mustara menang kerap marah apabila makanan yang disajikan dimeja makan tidak sesuai dengan seleranya, serta tidak tidak diberi uang.

Wayan Mustara Sering Mengamuk dan Tega Pukuli Ayahnya, Pernah Berulangkali Bakar Rumah
Istimewa
Wayan musara (baju kuning) saat dibawa ke RSJP Bali. Sabtu (27/1) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Sejak dilarikan ke RSUD Bangli, Sabtu (27/1), kondisi pasutri asal Banjar Tambahan Kelod, Desa Jehem, Tembuku, yang sempat memakan nasi bercampur pestisida, telah sedikit mengalami pemulihan dan sempat sadar.

Meski demikian, keduanya masih harus dirawat intensif di ruang ICU RSUD Bangli.

Ditemui didepan ruang ICU RSUD Bangli, Minggu (28/1), Made Sadiana, salah seorang anak kandung dari pasutri tersebut mengatakan, khususnya untuk ibunya, yakni Ni Nengah Bina (65), sejak dirujuk ke ruang ICU pada pukul 00.30 Wita, kondisinya sudah lebih membaik, dan sempat sadar pada pukul 05.00 Wita.

Sementara ayahnya, I Nyoman Tunas (67), hingga kini belum mengalami kesadaran.

Polisi lakukan pengambilan sampel makanan yang diduga dikonsumsi I Nyoman Tunas dan Ni Nengah Bina. Sabtu (27/1)
Polisi lakukan pengambilan sampel makanan yang diduga dikonsumsi I Nyoman Tunas dan Ni Nengah Bina. Sabtu (27/1) (Istimewa)

Kata Made Sadiana, kakaknya tersebut (Wayan Mustara, red) memang mengalami gangguan kejiwaan sejak masih kecil, dan sempat bolak-balik menjalani perawatan di RSJP Bali.

Menurut penuturannya, Wayan Mustara menang kerap marah apabila makanan yang disajikan dimeja makan tidak sesuai dengan seleranya, serta tidak tidak diberi uang.

Sementara nominal yang diminta pun tidak sedikit, dan terasa cukup memberatkan bagi kedua orang tuanya yang hanya seorang petani penggarap sawah.

"Mintanya bisa setiap hari, sekali minta Rp. 200 hingga 500 ribu. Uang segitu gimana cari. Sedangkan orang tua hanya buruh tani," jelasnya.

Lanjut dia, pernah pada tahun 2009 silam, saat tidak diberi uang, Wayan Mustara sempat membakar rumah keluarganya.

Kejadian tersebut bahkan menghanguskan 4 buah kamar seisinya. Beruntung kala itu seluruh anggota keluarga sedang berada di setra lantaran ada upacara pengabenan, sehingga tidak ada korban. 

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help