TribunBali/
Home »

Bali

Simpang Ring Banjar

Ogoh-ogoh Hidup Setelah Diarak, Banjar Gelogor Gerubug, Hingga Ada Pawisik yang Menyelamatkan

Masyarakat di Banjar Gelogor tidak pernah membuat ogoh-ogoh, namun masyarakat memiliki tradisi yang disebut Mebubu

Ogoh-ogoh Hidup Setelah Diarak, Banjar Gelogor Gerubug, Hingga Ada Pawisik yang Menyelamatkan
Tribun Bali/I Komang Agus Aryanta
Mebuwu-buwu 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Masyarakat Bali pada umumnya membuat ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi.

Namun, berbeda dengan di Banjar Gelogor, Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.

Warga di banjar tersebut mempunyai tradisi yang unik saat perayaan Nyepi.

Baca: Komang Bingung, Ribuan Lalat Misterius Menyerbu Warungnya di Desa Bakbakan Hingga Pembeli Sepi

Masyarakat di Banjar Gelogor tidak pernah membuat ogoh-ogoh, namun masyarakat memiliki tradisi yang disebut Mebubu atau lebih dikenal dengan Mebuwu-buwu.

Baca: 7 Macam Guna-Guna Ini Masih Banyak Dipercaya di Indonesia, No 6 Jangan Dipraktikkan!

Menurut masyarakat setempat, awalnya pernah membuat ogoh-ogoh, namun setelah di arak ogoh-ogoh tersebut hidup.

Akhirnya ogoh-ogoh tersebut di-prelina atau dibakar.

Baca: Cerita Korban Leak di Denpasar Terkena Umpan Cetik ‘Seperti Mimpi, Menjerit, Meronta’

Sejak kejadian tersebut masyarakat Banjar Gelogor tidak pernah lagi membuat ogoh-ogoh.

Halaman
1234
Penulis: I Komang Agus Aryanta
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help