Diskusi Literasi dan Budaya Pertunjukkan di Bali, Ada Jarak Antara Teater Modern dengan Tradisi?

Dalam diskusi literasi dan budaya pertunjukan yang dilaksanakan di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Sabtu (3/2/2018) sore mencuat adanya jarak

Diskusi Literasi dan Budaya Pertunjukkan di Bali, Ada Jarak Antara Teater Modern dengan Tradisi?
Tribun Bali/I Putu Supartika
Diskusi diskusi literasi dan budaya pertunjukan yang dilaksanakan di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Sabtu (3/2/2018) sore. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam diskusi literasi dan budaya pertunjukan yang dilaksanakan di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Sabtu (3/2/2018) sore mencuat adanya jarak antara teater modern dengan teater tradisi seperti arja, dan drama gong.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang pembicara, I Wayan Sumahardika dari Teater Kalangan.

"Kita melihat hari ini teater modern seakan-akan ada jarak dengan teater tradisi," kata Suma.

Ia mengatakan teater modern di Bali tak pernah berkolaborasi dengab teater tradisi.

Seolah-olah mereka berdiri sendiri.

Jadi ada tanda tanya besar bagaimana menjembatani teater tradisional dengan modern.

Sering juga muncul pertanyaan apa sih gunanya berteater di saat teman-teman sudah jadi dokter.

"Saat pementasan selalu muncul pertanyaan, apa yg baru dari pentasmu. Seolah-olah kebaruan menjadi pertanyaan yang penting, padahal di dunia ini tidak ada sesuatu yang baru," imbuh Suma.

Suma juga menambahkan, menurut kata Prof. I Nyoman Dharma Putra penelitian tentang sejarah teater di Bali hampir tidak ada.

Cuma ada satu tentang sejarah Teater Mini Badung.

Suma juga mengatakan bahwa teater sangat berjarak juga dengan kehidupan.

Sementara itu, Ibed Surgana Yuga dari Kalanari Theatre Movement membahas tentang adanya jarak antara teater dengan literasi.

"Literasi itu dunia aksara, sedangkan teater dunia kejadian atau dunia kepenontonan sehingga ada jarak dari teater dengan literasi," kata Ibed.

Ibed mengatakan tahun 1970-an dunia teater tidak ada jarak dengan literasi karena tokoh-tokoh sastra juga tokoh teater seperti Rendra, Putu Wijaya, dan Arifin C. Noer. (*)

Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved