Bahasa Ibu Dari Pandangan Penulis Muda Bali Saat Dialog Sastra di Bentara Budaya

Semakin berkembangnya zaman, bahasa ibu mulai dilupakan oleh generasi muda saat ini. Hal ini membuat para penulis muda sedikit resah.

Bahasa Ibu Dari Pandangan Penulis Muda Bali Saat Dialog Sastra di Bentara Budaya
Fauzan Al Jundi
penulis muda 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Para penulis muda Bali kali ini beraksi dalam dialog Sastra memperjuangkan bahasa Ibu sebagai sarana berekspresi di Bentara Budaya Bali, Jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Ketewel, Sukawati, Gianyar.

Dalam konidisi kekinian, banyak pihak prihatin dan mencoba melakukan upaya-upaya konservasi karena banyak karya-karya besar seperti Kitab Sutasoma, Negarakertagama dan lain-lain, terbukti mengandung keindahan bahasa sekaligus bermuatan nilai-nilai serta ajaran luhur kemanusiaan.

Kondisi itu membuat para penulis kembali ingin membangkitkan kembali semangat untuk mengedepankan bahasa Ibu dalam keseharian, agar tidak meninggalkan nilai-nilai sejarah yang terkandung didalamnya.

supartika
supartika (supartika)

"Ini bukan perkara romantisme atau mengagungkan masa lampau, melainkan upaya menyikapi aneka problematik kekinian di era multimedia yang serba lekas dan bergegas," kata Direktur Bentara Bali, Warih Wisatsana, Minggu (4/2/2018).

Narasumber dialog Sastra, I Putu Supartika, yang juga merupakan penulis muda menggunakan bahasa Bali sebagai media ekspresi.

supartika
supartika (supartika)

Tidak hanya itu, Akademisi, Pemerhati Budaya Bali, Titah Pratyaksa juga beranggapan seperti itu.

Selain melestarikan bahasa Ibu, dibincangkan pula bagaimana bahasa Ibu dapat mewakili ekspresi generasi kini, di tengah ramainya penggunaan media sosial, dan bermunculan bahasa-bahasa gaul.(*)

Penulis: Fauzan Al Jundi
Editor: Vita Nabdiyana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved