TribunBali/

Citizen Journalism

Apakah Kita Manusia Tuli di Kampung Hewani?

Jika kamu jadi hewan, apakah kamu akan hidup bersama seperti sekelompok gajah atau kamu hidup sendirian seperti seekor burung hantu?

Apakah Kita Manusia Tuli di Kampung Hewani?
Atta Verin
Bastly Village di Jogja 

Oleh: Atta Verin

Penikmat seni pertunjukan dan penulis lepas, tinggal di Jogja

Jika kamu jadi hewan, apakah kamu akan hidup bersama seperti sekelompok gajah atau kamu hidup sendirian seperti seekor burung hantu?

Pertanyaan menggelitik itu ditulis mencolok di dinding Kampung Hewani (Beastly Village) yang dibangun istimewa di Komunitas Seni Kaum Tuli (Deaf Art Community) di Langenarjan, Jogja akhir
pekan ini (2-4 Februari 2018).

Siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas?

Mungkin sebagian besar dari kita akan dengan sangat mudah memberi jawaban singkat.

Namun, jangan berharap pertanyaan-pertanyaan di dinding Beastly Village itu akan pergi dari kepala setelah kita menyaksikan tiga pertunjukan yang disajikan di dalamnya.

Papan Nama Beastly Village dengan eksterior bambu berhias daun kelapa kering dan penampakan Gorila Ungu, memang memberi kesan bahwa para pengunjung akan memasuki “Sarang” Gorila Ungu
dan teman-temannya.

Memasuki ruang tunggu, pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya tulis di paragraf pertama di atas akan menghajar imajinasi pengunjung yang mungkin membayangkan pameran seni rupa saja dari teman-teman difabel tuli.

Mural-mural yang menggoda harapan pengunjung karya Andres Busrianto-- Perupa Jogja kelahiran Padang, yang bekerja sama dengan Tutti Arts (Lembaga Seni Inklusi Australia) dan DAC (Deaf Art Community) untuk merealisasikan pertunjukkan Beastly Village ini-- seolah menjadi “suara” bagi semua pertanyaan pembuka itu.

Beastly Village di Jogja
Beastly Village di Jogja (Atta Verin)
Halaman
1234
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help