Jika Ketahuan Gelar Joged Jaruh, Desa Pakraman Ini Siapkan Sanksi Adat yang Menohok

Desa adat/pakraman di Bali ternyata sudah ada yang menerapkan sanksi adat terkait joged jaruh (porno)yang dianggap telah merusak adat

Jika Ketahuan Gelar Joged Jaruh, Desa Pakraman Ini Siapkan Sanksi Adat yang Menohok
Tribun Bali
joged Bumbung 

TRIBUN-BALI.COM SINGARAJA - Desa adat/pakraman di Bali ternyata sudah ada yang menerapkan sanksi adat terkait joged jaruh (porno) yang dianggap telah merusak adat dan budaya masyarakat Pulau Dewata.

Satu di antaranya diberlakukan di Desa Adat Banyualit, Desa Kalibukbuk, Lovina, Kecamatan/Kabupaten Buleleng.

Sanksi diberikan kepada warga yang menggelar pementasan joged jaruh.

Bendesa Adat Banyualit, Ketut Widarta, Kamis (8/2), mengakui bahwa di wilayahnya Joged Bumbung memang sering dipanggil oleh warga untuk mengisi sebuah acara, namun tidak diwarnai dengan aksi porno.

Hal itu dapat ia jamin, sebab setiap pementasan joged digelar, ia selalu datang mengawasi. Ini dilakukan agar tarian tersebut tidak diwarnai dengan aksi yang tak senonoh.

Dijelaskan Widarta, sebagai bendesa adat, dirinya pun telah menyusun sanksi adat bagi warga yang kedapatan menggelar atau mengupah joged jaruh.

Sanksi itu berupa tidak diberikannya pelayanan saat menggelar upacara pernikahan atau pengabenan.

"Ya kalau orang Bali pasti mengerti-lah tidak dapat pelayanan yang dimaksud itu seperti apa," ujarnya kepada Tribun Bali, kemarin.

Widarta sangat mendukung adanya perarem untuk memberantas joged jaruh ini. Dengan nada tegas ia menginginkan joged jaruh tersebut dibubarkan.

Ia menilai joged jaruh tidak memiliki atau mengembangkan tradisi adat Bali yang sebenarnya.

Halaman
1234
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved