TribunBali/

Sastrawan VS Seniman ‘Nyakcak’ di Denpasar Art Space

Pameran ini, akan dibuka tanggal 27 Februari dan berlangsung hingga 27 April 2018.

Sastrawan VS Seniman ‘Nyakcak’ di Denpasar Art Space
Tribun Bali/I Putu Supartika
Pertemuan sastrawan dan seniman di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Jumat (9/2/2018) membahas pameran Campuhan Rasa yang akan dilaksanakan di Denpasar Art Space. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dua puluh orang pemuda yang terdiri atas sepuluh seniman dan sepuluh sastrawan yang bergelut di sastra Bali modern (SBM) akan ‘nyakcak’ di Denpasar Art Space.

Para sastrawan yang bergelut di ranah verbal akan berkolaborasi sekaligus bertarung dengan seniman yang notabene bergelut di ranah visual untuk menciptakan karya yang akan dipamerkan serangkaian dengan HUT Kota Denpasar ke-230.

Pameran ini, akan dibuka tanggal 27 Februari dan berlangsung hingga 27 April 2018.

Pada pertemuan yang dilakukan di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Jumat (9/2/2018) dikatakan bahwa tema besar dari pameran ini adalah “Campuhan Rasa, Patemoning Rupa Sastra.”

Saat pameran sastrawan akan memamerkan puisi berbahasa Bali dan seniman memamerkan karya seni berupa lukisan maupun seni instalasi.

Dalam membuat karya, para seniman dan sastrawan akan dipasangkan, yang nantinya mereka akan membuat tiga buah karya.

Dua karya dibuat sendiri atau bisa berpasangan dengan tetap menonjolkan ciri khasnya masing-masing, satu karya lagi dibuat dengan cara berkolaborasi dengan pasangannya.

Setiap pasangan menentukan satu tema yang akan diangkat, namun dalam berkarya seniman tidak boleh mengilustrasikan karya puisi sastrawan, begitu juga sebaliknya sastrawan tidak boleh mendeskripsikan karya dari seniman.

Menurut salah satu kurator, I Gede Gita Purnama, project ini merupakan satu-satunya yang pernah ada dalam sejarah sastra Bali modern.

“Nanti acara ini akan tercatat sebagai sejarah pertama dalam sastra Bali modern. Karena dari literatur yang saya baca sebelumnya, belum pernah ada acara seperti ini yang dilaksanakan di Bali. Sekaligus ini adalah tantangan terberat bagi sastrawan karena harus mampu menunjukkan kekuatan agar tidak tenggelam oleh karya seniman saat dipamerkan, dan membuktikan keseriusan mereka dalam bersastra,” kata Gita.

Sastrawan yang ikut dalam pameran ini yaitu Agus Darma Putra, I Putu Supartika, Pande Jati, Ari Dwijayanti, Made Suar-Timuhun, Tudekamatra, Dewa Ayu Carma Citrawati, I Putu Eka Guna Yasa, Ketut Sandi Yasa, dan I Gede Putra Ariawan.

Sedangkan seniman yang terlibat yaitu Ida Bagus Sindu Putra, Komang Trisno Adi Wirawan, Pangestu Widya Sari, Dewa Gede Purwita, Nyoman Handiyasa, Nyoman Arisana, Kadek Darma Negara, Gede Jaya Putra, Tiartini Muda Rahayu, dan kadek Septa Adi.

Selaku kurator yaitu Wayan Seriyoga Parta, Made Susanta Dwitanaya, I Gede Gita Purnama, dan I Made Sugianto. (*)

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help