Gede Supanca: Wanita yang Mengalami Menstruasi Seperti Ini Berpeluang Kesurupan

Berdasarkan penelitian peneliti Jepang, diperoleh hasil orang kerauhan di Bali disebabkan gelombang otak alpha dan theta meningkat

Gede Supanca: Wanita yang Mengalami Menstruasi Seperti Ini Berpeluang Kesurupan
Instagram/made_aprimanta
Seorang wanita nampak kerauhan sambil menjulurkan lidah di Pura Prajapati. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Gelombang otak manusia ada empat, yaitu beta, alpha, theta, dan delta.

Beta saat sadar penuh dengan gelombangnya 12-25 Hz, alpha saat mengantuk dengan panjang gelombangnya 8-12 Hz, tetha kondisi saat terhipnotis dan gelombang otak turun antara 4-8 Hz, serta delta adalah gelombang orang tidur nyenyak tanpa mimpi dengan gelombang 0,1-4 Hz. 

Itulah yang dikatakan I Gede Wayan Supanca Ariyasa, ahli hipnoterapi saat seminar fenomena kerauhan jaman now di Gedung Wanita Shanti Graha, Minggu (11/2/2018).

“Hipnotis bekerja pada alpha dan delta, sama halnya terjadi dengan saat orang meditasi, karena gelombang otak turun, kesadaran turun jadinya sering kerauhan karena naiknya alam bawah sadar,” kata Ariyasa.

Ia juga mengatakan fenomena kerauhan bisa dijelaskan dengan metode hipnotis dan masuk dalam kategori metafisika.

“Di Bali orang kerasukan sesuhunan Dalem terutama Dalem Ped, di Jawa kerasukan Nyi Roro Kidul, Lombok kerasukan Dewi Anjani, di Sumatra kerasukan siluman harimau. Kenapa bisa beda?” kata Ariyasa.

Menurut Ariyasa sejak kecil orang di Bali didogmatis orang tua bahwa Bhatara di Pura Dalem seram, kalau Ida tedun magejeran jagat (dunia) sehingga akhirnya percaya saat kesurupan karena sesuhunan Dalem.

Ia menambahkan, berdasarkan penelitian peneliti Jepang yang meneliti kerauhan di Bali, diperoleh hasil orang kerauhan di Bali disebabkan gelombang otak alpha dan theta meningkat.

Kalau gelombang tersebut meningkat, kemampuan bawah sadarnya terbuka sehingga menggunakan memori bawah sadar.

Halaman
12
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help