Cok Ibah Masih Rahasiakan ‘Senjatanya’ di Pilkada Gianyar, Ini Sebabnya

Cok Ibah menegaskan, pendekatan yang dilakukan akan selalu berlandaskan filosofi dan kebudayaan

Cok Ibah Masih Rahasiakan ‘Senjatanya’ di Pilkada Gianyar, Ini Sebabnya
Tjokorda Raka Kerthyasa alias Tjok Ibah 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Cabup Gianyar dari Koalisi Gianyar Bangkit (KGB), Tjokorda Raka Kerthyasa alias Cok Ibah mengatakan, setelah ditetapkan sebagai Cabup-Cwabup Gianyar 2018, Senin (12/2/2018), pihaknya akan langsung merancang program kampanye untuk mewujudkan Gianyar Anyar.

Namun demikian, anggota keluarga Puri Agung Ubud ini masih merahasiakan hal yang akan ditonjolkan akan politikus Golkar ini bersama Cawabupnya, Pande Istri Maharani dari partai Demokrat.

“Itu masih rahasia perusahaan. Tapi pasti yang hebat,” ujarnya lalu tertawa.

Namun Cok Ibah menegaskan, pendekatan yang dilakukan akan selalu berlandaskan filosofi (pandangan) dan kebudayaan (kebiasaan) masyarakat Gianyar, Bali secara umum.

Sehingga, dalam proses sosialisasi (kampanye), pihaknya dapat membangun pola pikir anti pragmatisme pada masyarakat Gianyar.

Sebab sejak beberapa tahun ini, menurutnya, ideologi masyarakat Gianyar sudah mengarah ke pragmatisme, yakni condong memilih pemimpin berdasarkan banyaknya bantuan material yang diterima.

Sementara mengesampingkan kemampuan mengelola birokrasi untuk kesejahteraan masyatakat Gianyar dalam jangka panjang.

“Tugas kita adalah memberikan kesadaran secara moral dan etika, supaya masyarakat tidak berpikir pragmatis saja. Seharusnya, hal ini juga harus dilakukan para fraksi, jangan hanya sekadar mencari menang,” ujarnya.

Polikus yang getol dalam mempertahankan seni dan kebudayaan ini menilai, pemilih pragmatis hanya akan menciptakan pemimpin yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat Gianyar, yang gemar meyadnya (melakukan korban suci tulus ikhlas).

Artinya, pemimpin itu tidak akan melayani masyarakat secara ikhlas.

Ketika ada rancangan APBD yang diperuntukkan untuk membantu masyarakat, sebagian dananya dikorupsi.

Suka mencuri hak masyarakat demi kepentingan golongan, serta gemar berbohong demi pencitraan diri.

“Sebagai umat yang beragama dan yang mengadakan upacara setiap hari, apakah boleh kita membohongi publik, apakah boleh kita korupsi, apakah boleh kita mencuri. Kita harus melihat hal ini secara filososfi, supaya di kegiatan agama kita mencapai moksartam, di kegiatan managemen negara (pemerintahan) kita mencapai jagadhita. Ini harus digabungkan untuk mencapai kesejahteraan bersama,” tandasnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help