TribunBali/

Sponsor Content

Resiko Kredit Terus Naik, BPR Lestari Gelar Focus Group Discussion BPR Se-Indonesia  

Pemerintah bertekad untuk menyinergikan regulasi dan tata kelola pemerintahan yang baik guna menunjang pertumbuhan ekonomi nasional

Resiko Kredit Terus Naik,  BPR Lestari Gelar Focus Group Discussion BPR Se-Indonesia   
Istimewa
Made Tutik Sri Andayani, Direktur Bisnis BPR Lestari membuka Focus Group Discussion (FGD) 2018 Batch I di Rumah Luwih Gianyar Bali, Kamis (8/2/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pemerintah bertekad untuk menyinergikan regulasi dan tata kelola pemerintahan yang baik guna menunjang pertumbuhan ekonomi nasional yang pada 2018 diproyeksikan tumbuh sebesar 5,4%.

Inilah yang dicanangkan oleh Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo.

Tentu saja ini kabar positif bagi perbankan yang memang pertumbuhannya sangat bergantung pada atmosfer ekonomi, terlebih pada tahun 2017 lalu kredit perbankan masih lemah lesu termasuk di tingkat nasional.

Bahkan di Bali, kondisinya lebih was-was, dengan status erupsi Gunung Agung yang berdampak pada perekonomian. 

Kondisi inilah yang kemudian menjadi wacana diskusi dalam Focus Group Discussion 2018 Batch I yang di gelar oleh BPR Lestari pada tanggal 8 Februari lalu.

Bertempat di Rumah Luwih Gianyar Bali, acara yang dimulai dari pukul 14.00 ini dihadiri oleh para direksi BPR yang ada di Bali dan luar Bali seperti Jawa Timur dan NTT, bertujuan mempertemukan dan mendiskusikan berbagai persoalan yang dihadapi BPR.

Dengan tema “Penanganan Kredit Bermasalah & Dampak Erupsi Gunung Agung”, diskusi ini mencoba memetakan strategi, apa-apa saja yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi perekonomian kedepan dan tentu saja mengatasi masalah kredit macet dan dampak erupsi.

Diskusi di buka oleh Made Tutik Sri Andayani, Direktur Bisnis BPR Lestari, yang menyampaikan gambaran umum kondisi BPR di Indonesia yang rata-rata mengalami kesulitan, dibuktikan dengan kenaikan NPL, terutama pada tahun 2017.

BPR yang mengandalkan kredit sebagai satu-satunya sumber pendapatan merasakan dampak dari kondisi ini.

“Kondisi ini patut menjadi perhatian bersama, harus segera diselesaikan, jangan ditunda-tunda karena masalah yang dihadapi oleh sebuah BPR akan mempengaruhi BPR yang lain,” ujar wanita kelahiran Buleleng, 25 September 52 tahun yang lalu ini.

Halaman
1234
Editor: ady sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help