TribunBali/

Isak Tangis Keluarga Pecah Saat Pengabenan Made Rai, Bendesa Sebut Almarhum Sosok Pecalang Aktif

Bendesa menuturkan, almarhum merupakan salah satu anggota pecalang di Desa Adat Munggu yang sangat aktif di setiap kegaiatan yang digelar.

Isak Tangis Keluarga Pecah Saat Pengabenan Made Rai, Bendesa Sebut Almarhum Sosok Pecalang Aktif
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Suasana prosesi pengabenan Made Rai di Jalan Raya Munggu-Tanah Lot, Banjar Sedahan, Desa Munggu, Mengwi, Badung, Senin (12/2). 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Sejak pukul 07.00 Wita, keluarga dan kerabat berdatangan ke rumah duka di Banjar Sedahan, Desa Munggu, Mengwi, Badung, Senin (12/2).

Mereka berkumpul untuk melaksanakan prosesi pengabenan almarhum I Made Rai Sina (42) yang menjadi korban pembunuhan oleh pelaku I Nyoman Suama (32) asal Desa Tembok, Tejakula, Buleleng.

Iringan baleganjur dan ratusan warga serta kerabat mengiringi jenazah Almarhum Made Rai menuju tempat pengabenan di Setra Desa Adat Munggu.

Tangisan istri dan anaknya pecah bahkan hingga sempat pingsan ketika jenazah korban hendak dilakukan pembakaran.

Kakak Sepupu Almarhum, I Made Miarta (45) menjelaskan, keluarga saat ini sudah mengiklaskan kepergian almarhum dan menyerahkan proses hukum ke kepolisian.

“Saya serahkan proses hukumnya ke pihak yang berwajib sesuai ketentuan yang berlaku. Kami atas nama keluarga sudah mengiklaskan kepergian almarhum,” ucapnya saat ditemui.

Miarta menceritakan, sosok Made Rai adalah orang yang baik. Selama kenal dengannya, almarhum tidak pernah terdengar berbuat masalah.

Dia menegaskan, intinya keluarga sudah mengiklaskan almarhum Made Rai yang sudah menjadi Pecalang Desa Adat Munggu.

Sementara itu, Bendesa Adat Munggu, I Made Rai Sujana mengatakan, pasca kejadian pembunuhan pihak keluarga langsung melakukan upacara.

Setelah penebusan, dilanjutkan dengan melakukan pecaruan di TKP dengan tujuan melakukan pembersihan secara niskala.

Bendesa menuturkan, almarhum merupakan salah satu anggota pecalang di Desa Adat Munggu yang sangat aktif di setiap kegaiatan yang digelar.

Terlebih lagi, sudah menjadi pecalang belasan tahun.

“Orangnya baik sekali, dia lues sama masyarakat sehingga dalam pergaulan banyak sekali punya teman. Terlebih saat menjadi pecalang, almarhum sangat aktif dalam kegiatan apapun di Desa Adat Munggu,” kenangnya.

 “Intinya sudah mengiklaskan kepergian almarhum dan menyerahkan prosesi hukumnya kepada kepolisian,” tandasnya.

Korban meninggalkan istri Ni Nyoman Dewi (42) dan dua anaknya Ni Kadek Diana Antari (19) dan Nyoman Yudi Arsana (15).

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help