Home »

Bali

Hari Valentine

Hari Valentine - Ini Sejarah Cinta dalam Kakawin Smaradahana ‘Ketika Siwa Terpanah Sara Kusuma’

Smaradahana terdiri dari kata smara yang artinya cinta dan dahana berarti terbakar.

Hari Valentine - Ini Sejarah Cinta dalam Kakawin Smaradahana ‘Ketika Siwa Terpanah Sara Kusuma’
Kama yang dibakar oleh Batara Siwa pada sampul buku keluaran Dinas Pendidikan Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Awal mula adanya kasih sayang di antara manusia, yaitu perempuan menyukai laki-laki begitu juga sebaliknya terdapat dalam Kakawin Smaradahana.

Hal ini dikatakan oleh staff Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana, I Putu Eka Guna Yasa.

Menurutnya, Smaradahana terdiri dari kata smara yang artinya cinta dan dahana berarti terbakar.

“Siapakah yang dibakar oleh api asmara itu? Bahatara Kama. Filosofi kasih sayang itu kan panah dan hati,” kata Guna.

Ia mengatakan hal ini erat kaitannya dengan penyerangan suargan (sorga) oleh raksasa Nilarudraka.

“Dulu ada seorang raksasa yang bernama Nilarudraksa. Dia konon mendapatkan anugrah dari Bhatara Brahma dan otomatis mendapatkan anugrah dari Bhatara Siwa. Ia tidak bisa dikalahkan oleh manusia, raksasa, dan dewa,” kata Guna.

Karena merasa diri sakti, ia berkeinginan untuk menguasai sorga.Takutlah Bhatara Indra terhadap hal itu.

Bhatara Indra berpikir, karena sudah mendapat penganugrahan dari Bhatara Siwa, otomatis Siwa juga tidak bisa mengalahkan seseorang yang diberikannya anugrah.

Sehingga yang harus mengalahkan adalah putra Siwa dengan Parwati.

“Indra berpikir bagaimana caranya membuat mereka bersenggama dan melahirkan. Saat Nilarudraksa akan menyerang surga, ia berharap Siwa sudah memiliki putra. Namun Indra bingung untuk menentukan cara agar Siwa mau bertemu Parwati, karena saat itu Siwa sedang melakukan yoga,” katanya.

Ketika melakukan tapa brata, tidak ada yang bisa menggangu Siwa termasuk dewa, manusia, maupun raksasa.

Lalu dimintalah Bhatara Kama atau Bhatara Smara untuk menggoda Bhatara Siwa sehingga ingat pada istrinya.

Karena kedudukan Bhatara Kama berada di bawah Bhatara Indra, ia pun menyanggupi walaupun sadar jika Siwa telepas dari yoganya pasti akan dibakar oleh mata ketiga Siwa.

Dalam tekanan psikologis berangkatlah Bhatara Kama menggoda Siwa yang sedang menjalankan tapa brata.

“Dipanahlah Siwa dengan panah sara kusuma. Sara artinya panah, Kusuma artinya bunga. Dipanah sekali goyah Siwa. Saat dipanah untuk yang kedua kuat kesadarannya untuk ingat kepada Dewi Parwati. Dan saat dipanah yang ketiga rindu pada Dewi Parwati,” tutur Guna.

Ketika itu Siwa sadar sedang melakukan yoga, dan tahulah ia bahwa Bhatara Kama yang menggangu dirinya dan bersembunyi di depannya.

Karena menggangu tapanya yang juga menjadi raja dewata, dibakarlah Bhatara Kama dengan trinetra hingga hangus.

Siwa dan Parwati akhirnya bisa berhubungan.

Namun, Indra ingat bahwa syarat untuk mengalahkan Nilarudraksa adalah bukan dewa, bukan manusia, maupun raksasa, haruslah dia berbentuk setengah manusia setengah bianatang.

Gajah yang dimiliki Indralah yang dipakai untuk mengejutkan Dewi Parwati
ketika di taman.

Halaman
12
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help