TribunBali/
Home »

Bali

Makna Penglukatan Saat Tilem Dalam Ajaran Yoga Tantra

Dalam melakukan penglukatan dimulai dengan pembersihan tubuh, karena lapisan paling luar yang membungkus atma

Makna Penglukatan Saat Tilem Dalam Ajaran Yoga Tantra
Tribun Bali/Cisilia Agustina S
Suasana melukat di beji Pura Dalem Pingit Sebatu, Gianyar 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Putu Eka Guna Yasa mengatakan, berdasarkan buku IBM Dharma Palguna yang dibacanya, yang dipuja saat gelap bukan hanya Siwa dalam Tilem yang paling gelap, melainkan gelap yang juga ada pada diri masing-masing.

Hal ini juga terdapat dalam ajaran yoga tantra.

“Dewa di deweke. Di tempat paling gelap yang berstana dalam tubuh juga dipuja. Itulah yang menyebabkan ada pembersihan diri berupa melukat saat Tilem,” kata staf Kajian Lontar Universitas Udayana ini.

Tujuan utama dari melukat ini adalah untuk menyucikan tubuh mental dan jiwa, sehingga Siwa dalam diri semakin jelas tampak.

“Dalam Arjuna Wiwaha disebutkan jnanan nira sudha maulan, atau batinnya suci bagaikan bulan. Tilem berkaitan erat dengan bulan gelap dan berkaitan erat juga dengan Siwa,” imbuhnya.

Dalam melakukan penglukatan dimulai dengan pembersihan tubuh, karena lapisan paling luar yang membungkus atma atau disebut anamayakosa.

Kemudian dilakukan dengan pembersihan mental atau widnyanamayakosa, sehingga sampai ke anandamayakosa atau kebahagiaan.

“Upacara dan tapa yoga semadhi saat Tilem, karena dengan cara itu Siwa disadari dalam diri,” katanya.

Selain itu, menurut Guna, dalam lontar Sundarigama disebutkan; mwang tka ning tilem, wenang mapugara lara roga wighna ring sarira, aturakna wangi-wangi ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring widyadari widyadara, sabhagyan pwa yanana wehana sasayut widyadari 1, minta nugraha ri kawyajnana ning saraja karya, ngastriyana ring pantara ning ratri, yoga meneng, phalanya lukat papa pataka letuh ning sarira.

Artinya;

Dan apabila bertepatan dengan tilem, wajib menghilangkan kekotoran dalam diri. Haturkanlah berbagai bunga atau wangi-wangian di Sanggah Parahyangan dan di atas tempat tidur, dipersembahkan kepada bidadari, memohon anugerah agar terampil segala pekerjaan. Pemujaan itu dilakukan pada tengah malam dengan melakukan yoga, mengkonsentrasikan diri. Pahalanya adalah segala noda dan dosa di dalam diri teruat oleh-Nya. (*)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help