Oknum PNS Wanita di Jembrana Dalangi Korupsi Kematian Fiktif, Polisi Temukan Fakta Mengejutkan

Indah ditahan karena menjadi dalang dalam kasus dugaan korupsi dana santunan kematian fiktif yang merugikan negara sebesar Rp 451.500.000.

Oknum PNS Wanita di Jembrana Dalangi Korupsi Kematian Fiktif, Polisi Temukan Fakta Mengejutkan
Tribun Bali/I Gede Jaka Santhosa
Kapolres Jembrana, AKBP Priyanto Priyo Hutomo tengah menggelar ekspose kasus korupsi santunan dana kematian dengan tersangka Indah Suryani (48), seorang oknum PNS Pemkab Jembrana dengan kerugian Negara mencapai Rp. 451.500.000, Kamis (1/3) tengah menggelar ekspose kasus korupsi santunan dana kematian dengan tersangka Indah Suryani (48), seorang oknum PNS Pemkab Jembrana dengan kerugian Negara mencapai Rp. 451.500.000, Kamis (1/3) 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Setelah hampir satu tahun melangsungkan penyidikan, Polres Jembrana akhirnya menahan seorang PNS Pemkab Jembrana, Indah Suryani (49), Senin (26/2).

Indah ditahan karena menjadi dalang dalam kasus dugaan korupsi dana santunan kematian fiktif yang merugikan negara sebesar Rp 451.500.000.

"Pelaku ini one woman show, jadi dia mengajukan sendiri, memverifikasi sendiri hingga meloloskan pengajuan santunan fiktif ini sendiri," ujar Kapolres Jembrana, AKBP Priyanto Priyo Hutomo, Kamis (1/3).  

Kasus ini tengah digodok untuk maju ke Tahap II ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jembrana. Pelaku dikatakan menerapkan dua modus dalam melancarkan aksinya.

Pertama yakni dengan merekayasa data kematian warga dengan cara bekerjasama dengan sejumlah aparat desa di Kabupaten Jembrana.

Kedua yakni dengan mengajukan kembali data kematian warga yang dulu sudah pernah mendapat dana santunan kematian sebesar Rp 1.500.000 sehingga terjadi pencairan ganda.

"Selain Indah, kami juga menyelidiki keterkaitan sejumlah aparat desa," ujarnya.

AKBP Priyanto mengatakan, berdasarkan hasil penyidikan, didapati adanya 2.387 pengajuan dana santunan kematian yang sempat dicairkan melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kesosnakertrans) selama tahun 2015 lalu.

Dari penelusuran terhadap 2.387 pengajuan dana santunan kematian dengan jumlah anggaran mencapai Rp 3.580.500.000 tersebut, 301 di antaranya diketahui dipalsukan atau fiktif.

Alhasil ditemukan adanya kerugian negara Rp 451.500.000. Sebanyak 242 berkas direkayasa dengan nilai sebesar Rp 363.000.

Halaman
123
Penulis: I Gede Jaka Santhosa
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved