Orang Yang Bermain Sepakbola Berisiko Terserang Penyakit Jantung?

Bermain sepak bola secara teratur dapat menyebabkan perubahan struktural di jantung dan meningkatkan risiko gangguan

Orang Yang Bermain Sepakbola Berisiko Terserang Penyakit Jantung?
(Ilustrasi | Shutterstock)
Sepak Bola 

TRIBUN-BALI.COM - Bermain sepak bola secara teratur dapat menyebabkan perubahan struktural di jantung dan meningkatkan risiko gangguan irama jantung di kemudian hari.

Hasil riset tersebut dilengkapi pula dengan temuan, orang yang bermain sepakbola memiliki kemungkinan 5,5 kali lebih tinggi untuk mengembangkan fibrilasi atrium atau denyut jantung yang tak beraturan serta cepat.

Selain itu, kondisi ini diikuti oleh tanda-tanda impuls listrik abnormal lainnya di jantung.

Kondisi ini dibandingkan dengan mereka yang bukan atlet. Atrial fibrillation menyebabkan palpitasi jantung, pusing dan nyeri dada, serta meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, dan gagal jantung.

"Kami tahu bahwa aktivitas olahraga meningkatkan umur panjang dan memiliki banyak manfaat untuk sistem kardiovaskular."

"Namun, temuan kami tampaknya menunjukkan, mungkin ketika kalian mencapai tujuan ekstrem yang kami lihat pada atlet kelas atas, mungkin ada dampak negatif pada jantung," kata Dermot Phelan selaku pemimpin riset.

"Pemain tidak boleh berasumsi bahwa menjalani gaya hidup sehat dalam hal olahraga teratur berarti mereka kebal dari risiko masalah jantung."

"Faktanya, mereka berisiko lebih tinggi terhadap hal-hal seperti atrial fibrillation," tambahnya.

Periset melakukan pemeriksaan kardiovaskular terhadap 460 mantan pemain National Football League (NFL).

Lalu, periset membandingkan hasilnya dengan sampel 925 orang dari masyarakat umum yang memiliki demografi serupa dengan kelompok NFL dalam hal usia dan ras.

Hasilnya periset menemukan, pemain sepakbola juga cenderung memiliki denyut jantung yang bekerja sangat keras.

Hal tersebut biasanya menunjukkan kesehatan kardiovaskular. Namun, hal ini bisa pula menjadi gejala fibrilasi atrium.  (*)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved