Home »

Bali

Dharma Wacana

Pertemuan Kekuatan Maha Suci

Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1940 bersamaan dengan Hari Saraswati. Dalam hal ini, umat sering bingung apa yang harus dilakukan.

Pertemuan Kekuatan Maha Suci
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

TRIBUN-BALI.COM, - Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1940 bersamaan dengan Hari Saraswati. Dalam hal ini, umat sering bingung apa yang harus dilakukan.

Sebab di satu sisi harus melakukan ritual pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Dewi Saraswati, di sisi lain harus tidak melakukan aktivitas apapun.

Menyikapi hal ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) sudah mengeluarkan imbauan, bahwa pelaksanaan Nyepi dimulai pukul 06.00 Wita. Sementara Saraswati bisa dilakukan sebelum jam tersebut.

Lalu, bagaimana dengan instansi pendidikan? Untuk kegiatan, cukup di rumah saja, tidak usah ke sekolah. Karena bagaimana pun, Tuhan akan hadir di mana pun kita memuja-Nya.

Tapi kalau bisa, supaya tidak sama sekali tak ada upacara untuk Dewi Saraswati di sekolah, guru-guru yang rumahnya dekat sekolah saja yang melakukannya. Karena bagaimana pun, di sekolah tidak boleh tanpa upacara.

Terkait pertemuan Nyepi dengan Saraswati ini, apakah hal ini mengerdilkan makna Hari Suci Saraswati, tentunya tidak. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Sebab, Nyepi pada prinsipnya adalah amati gni (tidak menyalakan api).

Di dalam Weda, disebutkan bahwa penguasa api adalah Dewa Agni atau dalam beberapa sumber disebut juga sebagai Brahma (selain bertugas sebagai pencipta). Sementara Dewi Saraswati, dalam ajaran Purana adalah sakti (istri) Dewa Brahma.

Jadi, dalam perayaan Nyepi kali ini, ada pertemuan kekuatan yang maha suci. Brahma dalam Nyepi ini lebih bersifat ke dalam atau penguasaan diri.

Api yang harus dipadamkan dalam Catur Bratha ini adalah api matsarya (dengki atau iri hati), sementara api kesadaran harus tetap kita bangkitkan, dengan dilandasi ilmu pengetahuan (Saraswati).

Dalam ajaran agama Hindu, kita diajarkan melihat sesuatu dari dua hal, yakni fenomena (sesuatu yang tampak) dan metafisik (sesuatu yang tak tampak tapi diyakini ada).

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help