Home »

Bali

Isu Provokatif Versus Cara Provokatif

Gede Robi mengaku menjadi salah satu orang yang sangat bangga dengan Nyepi di Bali

Isu Provokatif Versus Cara Provokatif
Tribun Bali/I Putu Supartika
Navicula ketika tampil di atas panggung Agrifest 2018 di Taman Kota Lumintang, Minggu (11/3/2018) malam. 

TRIBUN-BALI.COM-- Vocalis Navicula, Gede Robi mengaku menjadi salah satu orang yang sangat bangga dengan Nyepi di Bali, hingga Navicula sampai merilis lagu Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti. Karena saya juga kan seorang ekologis, sangat setuju dan bangga dengan Nyepi ini karena ada kaitannya Nyepi dengan karbon prime, seperti bandara tutup, jalan-jalan juga tutup.

Terkait pemutusan paket data saat Nyepi, tujuannya baik agar pelaksanaan Catur Brata Penyepian semakin ketat. Akan tetapi, pengambilan angle-nya yang kurang baik.

Mematikan koneksi internet saat Nyepi merupakan isu yang sangat sensitif, dan kalau dilempar ke publik pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Di level pemerintahan harusnya dipikirkan bagaimana caranya kita menangkap ikan, ikannya kita dapat, tapi airnya tidak keruh.

Lebih baik mencari alternatif lain, misalkan diberitahukan kepada umat Hindu untuk lebih bijak menjalankan Catur Brata Penyepian dan tidak menggunakan internet sebagai media hiburan saat Hari Raya Nyepi. Nanti terserah setiap umat apakah menjalankan atau tidak.

Kalau kita ngomong tentang internet itu sudah menjadi milik orang banyak, menurut saya pemutusan internet itu sama saja seperti saat bulan puasa lalu warung harus tutup.

Saya pikir ini terlalu pragmatis. Statement yang pragmatis akan melahirkan reaksi yang pragmatis juga. Angle-nya yang kurang peka, apalagi saat ini Indonesia sedang menjaga kerukunan umat beragama.

Sekarang itu isu-isu pragmatis itu datangnya dari mindset. Kalau mencegah provokasi dengan mematikan internet itu adalah cara provokatif. Kurang bijak meredam isu provokatif dengan cara-cara yang provokatif.

Justru meredam isu provokatif yang baik adalah dengan jalan damai, misalkan memprovokasi bahwa Bali adalah contoh wujud pluraritas yang sangat indah di Indonesia di mana Nyepi juga didukung oleh agama-agama yang lain.

Hal-hal seperti itulah seharusnya yang diangkat, bukan melawan isu provokatif dengan hal-hal yang provokatif.

Kalau misalkan ada imbauan agar masyarakat Bali tidak menggunakan internet untuk media hiburan dan media yang menyesatkan agar kerukunan ini tetap terjaga, akan lebih indah. Atau diangkat juga bahwa bertahun-tahun Nyepi menjadi bentuk kerukunan umat beragama di Indonesia atau dipromosikan juga betapa Hari Raya Nyepi mampu mengurangi karbon prime yang ada di Bali dengan menutup jalan, bandara tutup tapi kita tetap care dengan pelayanan-pelayanan publik seperti rumah sakit. Ini harusnya diangkat.

Zaman sekarang, dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian dilarang menyalakan api, bepergian, melakukan hiburan, dan bekerja.  Hal itulah yang seharusnya dipromosikan, sehingga nantinya masyarakat sendiri akan tahu cara-caranya sendiri.

Kalau dia bukan umat Hindu, dia akan menghormati ini, kalau dia memang umat Hindu maka dia akan total menjalankannya. Terserah individulah nanti yang mengeksekusi.

Harusnya pemerintah peka dengan isu-isu ini, jangan sekali-kali mencegah isu provokatif dengan cara-cara yang provokatif itu kontraproduktif namanya. (sup)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help