Serba Serbi

Orang Bali Harus Tahu, Ini Sesungguhnya Tujuan Melasti Sebelum Nyepi

Karena hal itulah, maka sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali yang beragama Hindu melasti ke laut.

Orang Bali Harus Tahu, Ini Sesungguhnya Tujuan Melasti Sebelum Nyepi
Tribun Bali / I Nyoman Mahayasa
Krama Desa Adat Peguyangan Melaksanakan Melasti di pantai Padang Galak, Denpasar, Bali, Jumat (24/3/2017) pagi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menurut teks Lontar Sundarigama, tahapan-tahapan Nyepi tersebut ada empat.

Dari empat tahapannya, ada yang disebut melasti, atau makiis, atau kasegara yang dilaksanakan pra-Nyepi, atau sebelum Nyepi.

Untuk mengetahui makna dari melasti sebelum Nyepi ini menurut Lontar Sundarigama, Tribun Bali mencari referensi ke Perpustkaan Lontar Universitas Udayana.

Di sana, dibantu oleh salah seorang staf yang juga penekun lontar, Putu Eka Guna Yasa yang sekaligus juga membantu menterjemahkan teks tersebut.

“Secara tekstual menurut Lontar Sundarigama disebutkan bahwa Para Dewata harus menyucikan raga beliau kembali dengan cara mencari tirta kamandalu yang berada di pusat samudra atau dalam lontar disebutkan angamet tirta kamandalu ri telenging samudra. Itulah sebabnya sebelum melaksanakan Hari Raya Nyepi harus ada melasti atau mekiis,” kata Guna.

Dalam lontar tersebut dikatakan:

Ateka ring cetra masa ring tilem kunang, pasucian watek Dewata kabeh, An ring telenging samudra camananira

“Apabila sudah tiba saatnya cetra masa (bulan kesembilan) atau sasih kesanga yang umumnya jatuh pada bulan Maret, para Dewata itu melakukan penyucian, tempatnya penyucian beliau adalah di pusat samudra,” kata Guna menterjemahkan isi lontar tersebut.

Ameta sarining amertha kamandalu, yogya wang kabeh ngaturaken puja kerthi

“Tujuannya adalah mencari amertha kamandalu (air suci kehidupan yang disebut amertha kamandalu. Sehingga pada saat itu, patutlah manusia melakukan upacara ring sarwa Dewa kramania,” imbuh Guna.

Karena hal itulah, maka sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali yang beragama Hindu melasti ke laut.

Biasanya dalam melasti tersebut,pralingga-pralingga Ida Bhatara yang berupa rangda, barong, arca, pretima juga diiring (diikutsertakan), karena esensi dari melasti tersebut adalah penyucian.

Selain itu saat melasti masyarakat juga akan melakukan persembahyangan yang ditujukan kepada Ida Bhatara Baruna atau Dewa penguasa laut.

Sehingga Melasti itu bukan sekadar datang ke segara (laut) ramai-ramai, namun juga dibarengi dengan niat yang tulus. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved