Serba Serbi

Tumpek Landep Bukan Hanya Mengupacarai Senjata Tapi Juga Momen Berperang Dengan Nalar Dan Pikiran

Kalau hal itu dimaknai dewasa ini, berperang tidak lagi menggunakan senjata akan tetapi berperang dengan jnana dan idep.

Tumpek Landep Bukan Hanya Mengupacarai Senjata Tapi Juga Momen Berperang Dengan Nalar Dan Pikiran
Tribun Bali
Pengayah sedang membatu pemangku menghaturkan sesaji ke segala benda dari unsur logam yang akan diupacarai di Markas Brimob Polda Bali, Denpasar, Sabtu (16/5/2015). Hari Tumpek Landep merupakan hari khusus untuk mengupacarai persenjataan/peralatan untuk memohon kekuatan iman dan mental yang baik dalam penggunaan persenjataan serta peralatan yang sifatnya tajam. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di Bali, semua siklus peralihan selalu mendapat peralihan khusus dari masyarakat Bali.

Misalkan saat habis pawukon yaitu Watugunung bertemu dengan habis saptawara atau Saniscara (Sabtu) dimaknai dengan perayaan Saraswati.

Begitu pula dengan siklus akhir pancawara yaitu kliwon dengan siklus akhir saptawara yaitu Saniscara (Sabtu).

"Kalau itu kliwon pasti diyakini sebagai payogan dari Bhatara Siwa," kata Staf Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana, Putu Eka Guna Yasa yang ditemui di ruangannya, Rabu (28/3/2018).

Pertemuan siklus akhir pancawara dan saptawara terjadilah tumpek. 

Selanjutnya disesuaikan dengan pawukon, seperti saat ini tepat dengan wuku landep sehingga disebut Tumpek Landep.

"Secara tekstual saat Tumpek Landep ini kita memuja Bhatara Siwa dan Sang Hyang Pasupati. Kalau dilihat dari sarana upacara momentum, ini digunakan untuk memuja Siwa dan Sang Hyang Pasupati untuk nunas kasidian atau kekuatan atas senjata-senjata perang," imbuh Guna.

Guna mengatakan, berdasarkan teks Sundarigama misalnya yang banyak membahas tentang pelaksanaan upacara yang ada di Bali menjelaskan Tumpek Landep itu momentum untuk mengupacarai senjata peperangan yang digunakan sebagai sarana perang. 

Hal itu karena saat jaman kerajaan, senjata ini menjadi sangat penting karena suatu kerajaan rentan diserang kerajaan lain otomatis senjata itu diperlukan. 

"Sehingga Tumpek Landep digunakan sebagai momentum untuk recharging, karena terlalu lama digunakan pasti senjatanya akan 'tumpul' atau lumah apalagi bahan pembuatannya tidak bagus. Caranya yaitu senjata tersebut diupacarai selain diasah," tutur Guna.

Ia mengatakan, kalau hal itu dimaknai dewasa ini, berperang tidak lagi menggunakan senjata akan tetapi berperang dengan jnana dan idep.

"Kita berperang dengan nalar dan pikiran atau dengan jnana dan idep, maka yang harus direcharging atau mempertajam kemampuan untuk bernalar serta menguasai bidang tertentu baik secara pengetahuan maupun rohaniah. Dalam momentum Tumpek Landep inilah hal itu dilakukan," ujarnya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved