Gunung Agung Terkini

Aktivitas Gunung Agung Kian Mereda, PVMBG: Kalau Gempa Tidak Ada, Kemungkinan Status Diturunkan

Status Gunung Agung akan diturunkan jika aktivitas kegempaan, vulkanik dan tektonik, sudah tidak ada.

Aktivitas Gunung Agung Kian Mereda, PVMBG: Kalau Gempa Tidak Ada, Kemungkinan Status Diturunkan
Istimewa/Facebook
Kondisi kawah Gunung Agung belum lama ini 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Status Gunung Agung akan diturunkan jika aktivitas kegempaan, vulkanik dan tektonik, sudah tidak ada.

Itu disampaikan Kepala Sub Mitigasi Gunung Berapi, PVMBG, Gede Suantika, Kamis (29/3) malam hari.

Menurut Suantika, gempa vulkanik dan tektonik menandakan jika aktivitas di dalam perut gunung masih ada.

Sekarang, aktivitasnya tidak terlalu siginfikan lantaran jumlah gempa menurun di banding saat Gunung berstatus awas.

Data Magma VAR priode 00.00 sampai 12.00 Wita, Jumat (30/3), gempa vulkanik dalam  sekali, amplitudo 6 mm, durasi 25 detik. Tektonik Jauh cuma sekali amplitudo 7 mm, durasi 18 detik. Vulkanik dangkal sekali, amplitudo 5 mm, 14 detik.

Sedangkan hembusan sebanyak 5 kali, amplitudo 4 - 8 mm, durasi 16 hingga 50 dtik. Cuaca sekitar Gunung Agung beerawan. Angin bertiup lemah ke arah timur kondisi Gunung Agung teramati jelas. Suhu udara di kisaaran 24 hingga 28 C.

"Kalau gempa vulkanik dan tektonik sudah tak ada, kemungkinan status diturunkan. Sekarang gempa tektonik dan vulkanik masih ada, status tetap siaga (level III). Petugas belum miliki rencana untuk menurunkn. Nanti di evaluasi,"kata Suantika.

Pria asli Singaraja menambahkan, aliran magma ke kawah masih ada. Cuma, volumenya lebih sedikit banding sebelumnya.

Volume lava dipermukaan kawah masih sepertiga, tetap seperti dahulu, belum ada penambahan signifikan.

Potensi terjadi letusan masih ada walau cuma, daya letusan kecil. Dampaknya sekitar radius 4 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Yang terkena abu paling dikisaran puncak, tak sampai ke pemukiman. Terakhir letusaan terjadi awal bulan maret.

PVMBG mengimbau agar masyarakat, pendaki, pengunjung, dan wisatawan agar tak melakukan pendakian atau aktivitas di zona bahaya.

Yaitu di radius 4 kilometer dari puncak. Perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi, serta diubah.

Warga yang bermukim dan beraktivitas di  aliran sungai agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

Kondisi ini terjadi terutama pada musim hujan, dan jika material erupsi masih terpaapar di area puncak.

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help