Home »

Bali

Kajian Bandara di Buleleng Lanjut, Pastika: ‘Ini Impian Masyarakat Bali Sejak Puluhan Tahun Lalu’

Multimoda harus dibicarakan secara terpadu, seperti usulan jalan tol, usulan kereta api, maupun usulan bandara.

Kajian Bandara di Buleleng Lanjut, Pastika: ‘Ini Impian Masyarakat Bali Sejak Puluhan Tahun Lalu’
Tribun Bali / Rizal Fanany
Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan tinjau kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Badung,Bai,Kamis (29/3/2018). 

“Ada dua konsep yang berbeda, jadi ini yang diajak rembug dua-duanya sehingga nanti diambil poinnya yang pas untuk kepentingan bersama,” ucapnya.

Chairman PT Pembari, Ketut Maha Baktinata Suardhana, juga mengatakan optimis pembangunan Bandara di Bali utara akan dilanjutkan.

“Ya berlanjut, cuman masalah kapan itu yang masih dipikirkan,” ujar Suardhana.

Menurutnya, kajian dari World Bank belum final dan masih dalam draft, serta belum ada kesimpulannya.

“Kami sudah mendapat surat resmi dari World Bank dan kami diminta masukan. Diminta masukan, ya kita berikan,” tandasnya.

Dalam rakor, dari pihak PT Pembari mempresentasikan hasil studinya, bahwa apabila bandara dibangun di darat maka akan menjadi lebih cepat, murah, dan efisien.

“Kalau mau membangunnya cepat, murah dan efisien ya didarat itu, tetapi semuanya berpulang kepada pemerintah,” imbuhnya.

Dikatakan pula, dalam pertemuan tersebut semua pihak, baik dari swasta maupun World Bank, membawa dan mempresentasikan hasil kajian masing-masing.

“Dari PT Pembari menyerahkan semua keputusan kepada pemerintah, Pembari juga sudah mencapai kajian pada tahap akhir, yaitu secara komersial, finalisasi dan keekonomian dan sudah diserahkan ke Kemenhub untuk dinilai dan dievaluasi,” ungkapnya.

Sebelumnya Gubernur Pastika menyatakan Pemprov Bali tidak menetapkan pembangunan bandara berada di darat ataupun di laut.

Tergantung, mana yang lebih feasible menurut hasil kajian.

Yang pasti, kata Pastika, masalah bandara di Bali utara ini sudah jadi impian masyarakat Bali sejak puluhan tahun yang lalu.

Hal ini karena melihat ketimpangan yang sangat mencolok, baik dari segi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya antar-wilayah di Bali.

Menurutnya, titik berat pembangunan, khususnya pariwisata, infrastruktur, budaya, dan ekonomi hanya “berat” ke wilayah selatan.

Akibatnya wilayah utara, timur, dan barat tidak terkembangkan sama sekali. Karena itu, pihak World Bank harus mempertimbangkan kondisi ketimpangan tersebut, tidak hanya melihat dari aspek bisnis. (wem)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help