Dharma Wacana

Kekejaman Sekala dalam Perkawinan

Di era sekarang ini, perkawinan beda kasta bukan suatu hal yang langka lagi. Sering kita saksikan ‘nak agung’, nak dewa’ dan sebagainya

Kekejaman Sekala dalam Perkawinan
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

TRIBUN-BALI.COM, - Di era sekarang ini, perkawinan beda kasta bukan suatu hal yang langka lagi. Sering kita saksikan ‘nak agung’, nak dewa’ dan sebagainya menikah dengan ‘nak jaba’.

Hal tersebut menunjukkan fanatisme perkawinan beda kasta mulai ‘tercerahkan’.

Namun yang tidak berubah ialah konsep patiwangi atau  ‘nyerod’, yang  artinya seorang perempuan yang menikahi ‘nak jaba’ akan kehilangan kastanya.

Misalnya, nama lahir perempuan itu awalnya Anak Agung Wayan B, embel-embel ‘Anak Agung’ itu kemudian dihilangkan.

Permasalahannya, jika Anak Agung yang sudah menjadi ‘nak jaba’ ini bercerai, dan menikah lagi dengan ‘Anak Agung’ atau kasta lainnya, apakah dia disebut ‘jero’ atau kembali ke kastanya semula?

Jika kita berbicara masalah perkawinan, ada beberapa hal yang mendasarinya. Yakni, sanggama (perkawinan fisik), samana (perkawinan ideologi) dan samyoga (perkawinan spiritual).

Puncak dari perkawinan itu terletak pada spiritnya, yaitu atman.

Ketika kita berbicara mengenai atman, berarti kita berbicara masalah kehidupan. Tidak satupun kehidupan (atman) itu memiliki klaster atau kasta berbeda-beda.

Kan tidak ada atman kelompok tertentu, lebih rendah atau lebih tinggi. Semua atman itu sama.

Namun kita tidak bisa mengingkari, kehidupan sosial kita di Bali sangat kental dengan stratifikasi sosial (lapis-lapis sosial).

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved