Ida Pedanda Sidanta Lebar Tertimpa Pohon Pule Saat Gelar Ritual Muput Nuhur Taru Tapakan Barong

Suasana duka menyelimuti warga di Banjar Tibu Sambi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Sabtu (7/4).

Ida Pedanda Sidanta Lebar Tertimpa Pohon Pule Saat Gelar Ritual Muput Nuhur Taru Tapakan Barong
Istimewa
Ida Pedanda Gede Oka Sidanta (60) dikabarkan meninggal usai tertimpa pohon roboh 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Suasana duka menyelimuti warga di Banjar Tibu Sambi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Sabtu (7/4).

Satu diantara Ida Pedanda yakni Ida Pedanda Gede Oka Sidanta (60) dari Geria Taman Sari Megati lebar (meninggal dunia, red) usai tertimpa pohon Pulai (Alstonia scholaris) setinggi sekitar 20 meter.

Beliau tertimpa pohon usai melangsungkan ritual Nuhur Taru Tapakan Barong atau meminta bagian batang pohon Pulai yang akan digunakan untuk membuat tapel (topeng, red) Barong Sasuhunan Ida Bhatara di Pura Puseh setempat.

Informasi yang dihimpun Tribun Bali , peristiwa nahas yang menimpa Ida Pedanda Gede Oka Sidanta ini terjadi sekitar pukul 10.00 Wita.

Saat itu, Ida Pedanda tengah Muput (memimpin) upacara Nuhur Taru Tapakan Barong di sebuah kebun milik seorang warga, I Made Subagia yang tak lain merupakan Bendesa Adat Munduk Anggrek Kaja di Banjar Kedisan, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo.

Ritual tersebut diikuti oleh sekitar 70 orang Krama setempat.

Rencananya, batang pohon Pulai yang ditebang tersebut hendak dipakai sebagai bahan untuk membuat Tapakan atau topeng Barong Sasuhunan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Pekraman setempat.

Usai memimpin persembahyangan dan merampungkan prosesi upakara, pohon Pulai dengan diameter sekitar 3 meter tersebut kemudian ditebang sebagian batang utamanya oleh I Kade Adnyana (32), warga dari Banjar Sari Kuning, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya dan dibantu oleh I Komang Darmawan (51) yang merupakan warga setempat.

Awalnya, pemotongan pertama dengan menggunakan mesin Chain Saw dan tangga dengan ketinggian sekitar 5 meter dari atas tanah tersebut dilakukan pada bagian sisi Timur pohon dengan ukuran 1 Meter Persegi tersebut berjalan dengan lancar.

Polisi lakukan olah TKP di Lokasi kejadian
Polisi lakukan olah TKP di Lokasi kejadian (Istimewa)

Namun musibah terjadi ketika memotong bagian kedua dengan ukuran 1 meter persegi yang berada di sisi Utara pohon atau dekat dengan potongan pertama.

Terdengar suara "krepet-krepet" atau suara yang menandakan pohon hendak tumbang pada sisa bagian pohon atau sekitar 15 meter di atas dari bagian yang dipotong.

Mendapati hal tersebut, penebang pohon yang berada di atas kemudian langsung meloncat ke bawah yang diikuti oleh berhamburannya Krama yang ada di sekitarnya.

Nahas, robohnya pohon Pulai yang terjadi secara seketika tersebut justru mengarah ke titik dimana para Krama dan Ida Pedanda berkumpul.

"Pas musibah itu Ida Pedanda tengah berada di bawah bersama Krama, bukan semasih menandai batang pohon yang hendak diambil. Krama yang lain sempat menyelamatkan diri, tapi sayang Ida Pedanda telat menghindar sehingga tertimpa pohon Pulai tersebut," ungkap seorang Krama setempat, I Made Rai (42) ketika dikonfirmasi kepada Tribun Bali.

Untuk berita selengkapnya silakan baca edisi cetak Tribun Bali, Minggu (4/8/2018). 

Penulis: I Gede Jaka Santhosa
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved