Dharma Wacana

Yadnya Menjadi Persembahan Ego

Yadnya secara universal mengandung aktivitas cinta kasih, keikhlasan, dan persembahan.

Yadnya Menjadi Persembahan Ego
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

TRIBUN-BALI.COM, - Yadnya secara universal mengandung aktivitas cinta kasih, keikhlasan, dan persembahan. Biasanya yadnya diistilahkan sebagai korban suci.

Tapi, saya tidak setuju dengan istilah korban suci itu. Yang lebih tepat adalah aktivitas rela berkorban.

Ketika kita berbicara yadnya dalam aspek upakara, di sana ada konsep dualisme, yakni spirit dan material.

Saat ini banyak umat yang tidak melihat dari konsep spiritnya, tetapi lebih banyak ke unsur material, sehingga hal-hal yang bersifat material lah yang ditonjolkan.

Sarana upakara dijadikan komoditas, dan bahkan dieksploitasi kelompok tertentu.

Terkadang, yadnya dengan bebantenan besar tidak hadir karena keinginan atau kemampuan si pemilik gawe.

Tetapi permintaan oknum tukang banten, dengan tujuan memenuhi target pendapatan.

Akibatnya, sering terjadi, seharusnya bisa memakai satu kerbau, tukang banten meminta lebih dari satu.

Kalau kita berpikir secara rasional, wilayah yadnya itu memang tidak terukur karena merupakan persembahan untuk Tuhan.

Tapi ketika masuk ke dunia material (sarana upakara), kan seharusnya ada ukuran.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help