TribunBali/
Home »

Bali

Duh! Jajanan Tradisional di Bali Ini Pakai Zat Pewarna Berbahaya

Rhodamin B merupakan zat pewarna sintesis yang banyak digunakan pada industri tekstil dan kosmetik

Duh! Jajanan Tradisional di Bali Ini Pakai Zat Pewarna Berbahaya
Tribun Bali/Eurazmy
Petugas BBPOM Denpasar menunjukkan contoh temuan jajanan tradisional menggunakan zat pewarna kimia berbahaya, Kamis (12/4/2018) Area lampiran 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar masih menemukan penggunaan bahan berbahaya pada makanan sehari-hari di wilayah Bali.

Zat kimia berbahaya pada makanan yang paling banyak ditemukan mengandung zat pewarna Rhodamin B.

Pewarna ini banyak dijumpai pada jajanan tradisional yang banyak beredar dan dikonsumsi warga.

Seperti kembang matahari, sagon, kerupuk dan rengginang warna-warni.

"Ini bisa kita lihat dari hiasan jajan dengan warna yang mencolok seperti spidol warna (stabilo). Setelah kita periksa, hasilnya positif Rhodamin B. Selain itu juga masih banyak ditemukan makanan mengandung boraks dan formalin," ungkap Kepala BBPOM Denpasar, Dra. I Gusti Ayu Adhi Aryapatni ditemui di kantornya, Kamis (12/4/2018).

Sebagai informasi, Rhodamin B merupakan zat pewarna sintesis yang banyak digunakan pada industri tekstil dan kosmetik.

Zat ini dilarang digunakan dalam bahan makanan karena terdapat kandungan zat logam yang berpotensi merusak tubuh manusia hingga memicu penyakit komplikasi seperti kanker.

Selain itu, zat pewarna lain yang dilarang namun masih banyak disalahgunakan masyarakat yakni kesumba.

Temuan ini tentu menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengawasan keamanan bahan pangan.

Sebab itu pihaknya terus menghimbau peningkatan kesadaran masyarakat dalam pemilihan makanan aman.

Hal ini dirasa penting mengingat tiap daerah juga memiliki potensi wisata kulinernya masing-masing.

Lebih lanjut, BBPOM akan terus mengawal kesadaran kesehatan masyarakat ini dengan berbagai program Gerakan Keamanan Pangan Desa.

Dari program ini, diharapkan terbentuk kesadaran masyarakat secara kolektif dan mandiri.

"Mereka bisa mereplikasi kerja kita secara mandiri dan berkesinambungan untuk menjaga kualitas, keamanan pangan dan kesehatan mereka sendiri," tandasnya. (*)

Penulis: eurazmy
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help