Meski Tengah Berduka, Kelurga Jik Kenjing Tetap Langsungkan Nelu Bulanan Dilanjutkan Pemakaman

Meski dalam suasana berduka, keluarga besar almarhum Ida Bagus Putu Adnyana (47) alias Jik Genjing tetap melaksanakan upacara nelu bulanin

Meski Tengah Berduka, Kelurga Jik Kenjing Tetap Langsungkan Nelu Bulanan Dilanjutkan Pemakaman
Tribun Bali/Widyartha Suryawan
Kondisi bus yang mengalami rem blong hingga memicu terjadinya tabrakan beruntun di Depan GWK, Uluwatu, Jumat (13/4/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Meski dalam suasana berduka, keluarga besar almarhum Ida Bagus Putu Adnyana (47) alias Jik Genjing tetap melaksanakan upacara nelu bulanin (tiga bulanan) di rumah duka di Dusun Munduk, Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, Sabtu (14/4/2018) siang kemarin.

Usai nelu bulanin anaknya, malam harinya dilakukan pemakaman Jik Genjing di setra banjar setempat.

"Tadi upacara nelu bulanin tetap dilangsungkan dari siang sampai sore. Sekarang kita sedang menunggu jenazah Jik Genjing dibawa dari Denpasar menuju Buleleng. Jenazah akan langsung dimakamkan pada malam hari ini," ujar kakak sepupu Jik Gending, Ida Bagus Andika (50), saat dihubungi Tribun Bali dari Denpasar, Sabtu (14/4/2018) petang.

Ditambahkan, setelah keluarga selesai gelar upacara nelu bulanin anak keenam Jik Gending, pihak keluarga langsung ke RSUP Sanglah, Denpasar, untuk mengambil jenazah almarhum.

Pihak keluarga kemudian membawa jenazah Jik Genjing ke Buleleng diantar ambulans sekitar pukul 18.30 Wita.

Sesuai hasil rapat dengan pihak keluarga, diputuskan prosesi pemakaman jenazah almarhum Jik Genjing agak berbeda pada umumnya.

Dikatakan Jik Andika, jenazah tidak dibawa ke rumah untuk diupacarakan, melainkan langsung dibawa ke setra banjar untuk dimakamkan.

Hal ini sesuai dengan awig-awig di Dusun Munduk, Desa Banjar, Buleleng, yakni larangan untuk mengupacarai jenazah yang meninggal secara tidak wajar (ulahpati).

"Sesuai awig-awig yang berlaku di sini, langsung diupacarai dan dimakamkan di setra," terangnya.

Lebih lanjut, kata Jik Andika, pihak keluarga merencanakan prosesi ungkap lawang setelah bulan pitung dina (satu bulan tujuh hari) usai waktu kematian korban.

Halaman
1234
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help