205 Pelamar Penyuluh Bahasa Bali Masuk Tahap Interview, Ternyata Beberapa Desa 'Kurang Laku'

Dalam rapat tersebut, tim seleksi berhasil menyeleksi 205 peserta yang akan siap ditempatkan pada 180 desa di Bali.

205 Pelamar Penyuluh Bahasa Bali Masuk Tahap Interview, Ternyata Beberapa Desa 'Kurang Laku'
Tribun Bali/Busrah Hisam Ardans
Prof I Nyoman Suarka, saat diwawancarai Tribun-Bali usai rapat di Gedung DPRD Provinsi Bali, Senin (16/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Busrah Hisam Ardans

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Rapat Kerja dengan Tim Seleksi Bahasa Bali, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali dalam rangka rekrutmen penerimaan Penyuluh Bahasa Bali, yang diselenggarakan Senin (16/4/2018) sekira pukul 09.00 wita bertempat di Ruang Rapat Baleg, DPRD Provinsi Bali.

Dalam rapat tersebut, tim seleksi berhasil menyeleksi 205 peserta yang akan siap ditempatkan pada 180 desa di Bali.

Prof I Nyoman Suarka selaku Ketua Panitia Seleksi Penerimaan Penyuluh Bahasa Bali usai rapat menyebutkan, ada beberapa desa yang tidak dipilih oleh para calon penyuluh.

"Ada beberapa desa yang kurang laku dalam tanda kutip di tangan penyuluh. Pemikirannyakan begini, tidak semua desa yang ada pelamarnya dari sana. Inikan aneh memang. Sampai saat ini masih saya petakan desa mana saja," ujar Prof Suarka.

Ia juga menyebut ada desa yang peminatnya banyak sekali sementara kebutuhan cuma satu.

"Buleleng, Tabanan, Jembrana butuh penyuluh jadi tidak semua di Badung. Seperti itu di Sanur butuh 1 orang penyuluh sementara yang daftar 9. Nah bagaimana dengan 8 orang itu apakah mau jika dipindahkan di Tabanan?" ujarnya.

Dia dan rekan-rekannya saat ini tengah memberi solusi terbaik bagi para penyuluh yang sudah lulus apalagi besok merupakan tes wawancaranya.

"Jadi solusinya seperti ini. Kita-kan sudah punya 205 orang yang lolos sampai tahap interview besok, jadi 205 sudah melingkupi 180 kouta yang dibutuhkan. Di situlah besok kita akan lakukan interview test dan membuat surat pernyataan ulang yang berisikan, seandainya anda diterima dan ditugaskan di tempat yang bukan anda pilih apakah anda bersedia? Dan jika bersedia maka bisa," jelasnya.

Kalaupun tidak lanjutnya pihaknya tidak bisa memaksakan kehendak.

"Pendekatan teknisnya besok kita diskusikan di sesi interview itu. Sebanyak 180 itu sudah terpenuhi apalagi yang ngelamar 205. Itukan sisa. Jadi tim kami berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik." ungkapnya.

Menanggapi syarat maksimal umur 40 tahun, dia menjelaskan syarat itu belum bisa diubah.

"Yah, terkait umur itu kami berupaya penyuluh lebih 'mobile' melakukan tugas seandainya mendapat tempat tugas jauh. Jadi maksimal 40 tahun." katanya. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help