Kerusakan Lingkungan Akibat PLTU Batubara baik Darat maupun Laut Masih Diabaikan

Kerusakan lingkungan akibat keberadaan PLTU dialami warga Celukan Bawang masih diabaikan oleh pihak-pihak terkait

Kerusakan Lingkungan Akibat PLTU Batubara baik Darat maupun Laut Masih Diabaikan
Tribun Bali / Rino Gale
Suasana pembahasan peluncuran laporan kesaksian warga Celukan Bawang, di dalam kapal rainbow warior Senin (16/4/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali - Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Masih dalam rangkaian kegiatan tur kapal Rainbow Warrior di Benoa, Bali, peluncuran laporan kesaksian warga Celukan Bawang dengan tema "Meracuni Pulau Dewata", mengungkap kerusakan lingkungan di darat dan perairan yang diabaiakan.

Kerusakan lingkungan akibat keberadaan PLTU dialami warga Celukan Bawang.

Masyarakat sudah beberapa kali menyampaikan hal ini baik kepada pengelola PLTU maupun pemerintah.

Namun belum ada respons yang berarti.

Mulyadi selaku Anggota DPRD Kabupaten Buleleng, memeberikan contoh bagaimana ekosistem pantai telah rusah akibat pembangunan sandaran untuk tongkang.

"Tadinya nelayan gampang cari ikan, sekarang susah karena ada dermaga (yang menjorok) ketengah laut. Pembangunan beton juga diperotes, karena membuat nelayan tidak bisa melaut," ujarnya.

Masalah lingkungan yang lain adalah pengelolahan limbah sisa pembakaran batubara.

PLTU ini dipaksakan beroperasi sebelum ada kejelasan mengenai pengelolaan limbahnya.

Putu Mangku Budiasa selaku Ketua Komisi II DPRD Buleleng menjelaskan, pernah meminta agar peresmian pembangkit listrik terbesar di Pulau Bali ini, ditunda sampai pihak kontraktor menyelesaikan permasalahan tersebut.

Halaman
12
Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help