Dharma Wacana

Tak Jarang, Ada Umat Yang Rajin Muspa Namun Tetap Ditimpa Kejadian Buruk, Mengapa?

Biasanya orang yang seperti ini, kualitas muspa-nya sangat dangkal. Sebab dia hanya berhenti di kesembuhan.

Tak Jarang, Ada Umat Yang Rajin Muspa Namun Tetap Ditimpa Kejadian Buruk, Mengapa?
Tribun Bali/AA Gde Putu Wahyura
Persembahyangan di Pura Penataran Agung Besakih, Karangasem, Jumat dini hari, (27/1/2017). 

Terkadang, jangankan tujuan dari muspa, antara apa yang diucapkan dan apa yang dinginkan terkadang tidak sesuai.

Kadang-kadang bahasanya ‘nunas ica’, tapi dia mengatur Tuhan untuk memenuhi keinginannya.

Padahal ‘ica’ itu sendiri berarti, “terjadilah atas kehendak Tuhan”.

Orang yang tidak memahami hal ini, terkadang meragukan keberadaan Tuhan atau bahkan berhenti muspa ketika dia sering kena musibah, meskipun rajin muspa.

Seharusnya kalau sudah nunas ica atau meminta kehendak Tuhan, harus menerimanya dengan rasa bhakti, karena itu adalah karunia Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa.

Meskipun yang kita terima itu adalah suatu bentuk musibah.

Perlu kita sadari, musibah yang kita terima ketika rajin muspa, merupakan sebuah pembersihan dosa-dosa kita di masa lampau atau kehidupan sebelum kita bereinkarnasi menjadi orang saat ini.

Karena hal inilah, tidak semua orang yang rajin sembahyang hidupnya selalu selamat atau bahagia.

Tapi jika kita dapat melewati cobaan ini dengan rasa bhakti, Atman setelah kita meninggal, akan mendapatkan tempat yang baik. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help