Transaksi Perdagangan RI-Papua Nugini Capai Rp 2,5 Triliun, Bali Berpotensi Dua Komoditi Ini

Kepala Badan Karantina Pertanian RI Banun Harpini usai penandatanganan MoU mengungkapkan sejak tahun 2016-2017 Nilai transaksi

Transaksi Perdagangan RI-Papua Nugini Capai Rp 2,5 Triliun, Bali Berpotensi Dua Komoditi Ini
Tribun Bali/Sjam Ardan
Penandatanganan Mou RI-PNG di Hotel Ramada Bintang Bali, Jumat 20/4/2018. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Penandatanganan MoU antara Badan Karantina Pertanian RI dengan Papua Nugini tentang perdagangan yang berlangsung di Hotel Ramada Bintang Bali, Kuta Bali, Jumat (20/4/2018)  menunjukkan nilai yang cukup fantastis yakni, berpotensi yakni Rp 2,5 Triliun.

Kepala Badan Karantina Pertanian RI Banun Harpini usai penandatanganan MoU mengungkapkan sejak tahun 2016-2017 Nilai transaksi perdagangan Indonesia dengan Papua Nugini mencapai Rp 2,5 Triliun.

"Kerjasama sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu karena progres yang belum signifikan. Namun telah mencatat
transaksi tahun 2016-2017 sebesar Rp 2,5 Triliun. Kini kami mengadakan penandatanganan MoU dengan maksud agar kedua belah pihak atau otoritas karantina kedua negara memberikan jaminan yang berarti dari kelayakan dan kesehatannya dalam perdagangan. Bebas dari penyakit dan hama. Karena fungsi Karatina yakni menjaga keamanan barang." jelas Banun.

Ia menuturkan, setelah ini hubungan dagang akan lebih tinggi setingkat dua negara, beda dengan sebelumnya yang hanya di areal perbatasan.

"Potensi kita di area perbatasan ialah beras, produk hewani seperti ayam olahan. Kalau khusus dari Bali bisa ekspor daging babi, dan olahan coklat. Apalagi di Papua sudah dideklarasikan bebas flu burung. Ini potensi kita karena industri olahan ayam yang punya security tinggi. Ayam dan telur bisa kita ekspor. Telur konsumsi maupun tetas sebagai bahan peternakan karena di sisi lain kita over suplai." jelas dia.

Jika saat ini tambahnya ekspor kita mencapai 1,9 juta Dollar US dan bahkan bisa dua kali lipat karena faktanya terjadi perubahan pasar di sana.

"Kita bsa dapat lebih dari nilai saat ini. Mengingat dulu pasar di sana hanya hari selasa tapi sekarang pasarnya hampir tiap hari. Sementara komoditas dari provinsi Bali bisa menyiapkan daging babi karena permintaan yang tinggi. Dari potensi jumlahnya belum rampung hanya saja kita minta Bali menyiapkan itu. Selain itu variasi lainnya yakni tepung terigu, kelapa sawit." terangnya.

Selanjutnya pihak Karantina kembali berencana memulai membangun dari perbatasan dengan mengadakan MoU yang sama dengan Pemerintahan Timor Leste, dan Malaysia di Serawak yang dijadwalkan tahun ini. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help