Bule Naik dan Duduk Padmasana Dianggap Melanggar Kode Etik Pariwisata

Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Agung Suryawan Wiranatha, menyayangkan terjadinya kasus bule naik dan duduk

Bule Naik dan Duduk Padmasana Dianggap Melanggar Kode Etik Pariwisata
net
Seorang bule nampak duduk di padmasana Pura Gelap Besakih, Karangasem. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Agung Suryawan Wiranatha, menyayangkan terjadinya kasus bule naik dan duduk di palinggih padmasana Pura Gelap Besakih.

Selain bentuk pelecehan terhadap masyarakat Bali, khususnya yang beragama Hindu, kasus ini juga dianggap pelanggaran kode etik pariwisata.

“Itu adalah pelecehan terhadap kepercayaan tuan rumah (host) oleh wisatawan (guest),” kata Agung saat dihubungi Tribun Bali, kemarin.

Agung melanjutkan dalam Kode Etik Pariwisata Internasional yang dikeluarkan oleh UNWTO disebutkan bahwa para wisatawan harus menghargai (respect) adat-budaya dan kearifan lokal masyarakat yg dikunjungi (culturally acceptable).

“Pelanggaran terhadap Kode Etik Pariwisata Internasional dapat dikenakan sanksi atau hukuman sesuai dengan aturan/hukum yang berlaku di wilayah setempat," ungkapnya.

Terlepas dari itu, Agung juga menyarankan krama Bali lebih ketat menjaga kawasan suci di tengah gencarnya pariwisata.

Ia berharap kedepannya agar akses ke pura bagi wisatawan lebih diperketat.

“Perlu disiapkan pengumuman tentang apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan wisatawan di pura,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Karangasem, Wayan Astika, minta berbagai elemen tidak terburu-buru mengeluarkan pernyataan terkait aksi Bernat.

Pria yang juga menjabat Ketua PHDI Karangasem ini meminta merembukkan kasus tersebut untuk mengetahui kebenarannya.

Sampai sekarang, kata Astika, manajeman operasional (MO) Pura Besakih belum melaporkan kasus ini ke Dinas Pariwisata Karangasem.

"Kasus ini dirapatkan dulu. Apalagi orangnya sudah minta maaf di media sosial. Semua komponen harus duduk bersama, membahas masalah ini," ujarnya, Jumat (20/4/2018) sore.

Mantan Sekretaris Dinas Perhubungan Karangasem ini justru meminta masalah ini tidak dibesar-besarkan.

Apalagi katanya Desa Pakraman Besakih sudah bersedia menggelar upacara pembersihan dan guru piduka di Pura Gelap Besakih.

"Janganlah dulu berkomentar. Toh si bule juga belum diketahui keberadaanya. Tak usahlah dibesar-besarkan. Secara kedinasan, masalah ini akan dirapatkan kembali dengan instansi terkait," tambah Astika. (wem/ful)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help