Hari Kartini

Kisah Dibalik Kematian Mendadak Raden Ajeng Kartini dan Spekulasi Negatif yang Berkembang

Sejarah mencatat kematian Raden Ajeng (RA) Kartini yang mendadak menimbulkan spekulasi negatif bagi sebagian kalangan

Kisah Dibalik Kematian Mendadak Raden Ajeng Kartini dan Spekulasi Negatif yang Berkembang
tribunnews.com

TRIBUN-BALI.COM - Sejarah mencatat kematian Raden Ajeng (RA) Kartini yang mendadak menimbulkan spekulasi negatif bagi sebagian kalangan.

Anak pertama RA Kartini dan satu-satunya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904.

Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun.

Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Seperti diketahui dalam sejarah, seperti dilansir Wikipedia, Kartini meninggal pascamelahirkan, tepatnya 4 hari setelah melahirkan.

Ketika Kartini mengandung bahkan sampai melahirkan, dia tampak sehat walafiat.

Hal inilah yang mengandung kecurigaan.

Efatino Febriana, dalam bukunya “Kartini Mati Dibunuh”, mencoba menggali fakta-fakta yang ada sekitar kematian Kartini.

RA Kartini dan sang putra, Soesalit Djojoadhiningrat. 
RA Kartini dan sang putra, Soesalit Djojoadhiningrat.  (surya.co.id)

Bahkan, dalam akhir bukunya, Efatino Febriana berkesimpulan, kalau kartini mamang mati karena sudah direncanakan.

Demikian pula Sitisoemandari dalam buku "Kartini, Sebuah Biografi", menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat dari Belanda.

Halaman
1234
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved