Dharma Wacana

Kawasan Pura Kotor Usai Pujawali, Umat Patutnya Sembahyang Sesuai Konsep Tapak Dara

Namun pengorbanan tersebut menjadi sia-sia, ketika usai sembahyang kita justru mengotori kawasan pura dengan sampah.

Kawasan Pura Kotor Usai Pujawali, Umat Patutnya Sembahyang Sesuai Konsep Tapak Dara
TRIBUN BALI
IDA PANDITA MPU JAYA ACHARYA NANDA

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setiap pujawali di Pura Besakih, umat Hindu di Nusantara selalu berbondong-bondong tangkil untuk menghaturkan bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Meskipun harus terjebak macet dalam waktu berjam-jam, dan harus mengantre di bawah sengatan matahari untuk bisa masuk ke areal pura, hal tersebut tidak pernah menyurutkan niat umat untuk bersembahyang.

Hal ini membuktikan kesadaran umat dalam mendekatkan diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sangat besar.

Namun pengorbanan tersebut menjadi sia-sia, ketika usai sembahyang kita justru mengotori kawasan pura dengan sampah.

Dan, hal inilah yang kerap terjadi.

Tidak hanya di Pura Besakih, banyak pura besar yang juga diperlakukan sama oleh oknum umat.

Bahkan, jika tidak membuang sampah di wilayah pura, sampah akan dibuang sembarangan di areal hijau, di sepanjang jalan yang dijadikan akses pulang-pergi.

Kondisi tersebut mencerminkan sebagian umat kita menganggap persembahyangan hanya bersifat personal, yakni antara dirinya dengan Tuhan.

Padahal, sembahyang sesungguhnya adalah cara untuk membangun hubungan harmonis, sesuai konsep ‘Tapak Dara’.

Yakni, vertikal ke atas, artinya menjaga hubungan baik dengan Tuhan.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved