Tradisi Ombak-ombakan di Pura Samuan Tiga, Walau Beda Tetap Satu dalam Kebersamaan

Upacara Ida Batara Ratu Manca-manca Budal yang berlangsung di Pura Samuan Tiga siang tadi memperlihatkan banyak tradisi

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Upacara Ida Batara Ratu Manca-manca Budal yang berlangsung di Pura Samuan Tiga siang tadi memperlihatkan banyak tradisi masyarakat sekitar.

Setelah tadi Tari awal yang dilakukan Permas (Pengayah Wanita) yang memutari Pura sebanyak 11 kali dan menari perlahan tanpa berpegangan tangan, kini beralih ke tari Nampyog.

Perempuan-perempuan yang sama turun dari tangga Pura dengan kecepatan yang lebih dari tari awalnya.

Pantauan Tribun Bali yang saat itu tengah menyiarkan siaran langsung melalui via Facebook tampak tangan satu dan lainnya saling berpegangan, berjalan menyamping dan saling tarik menarik.

Tidak sampai di situ, Permas tersebut berjalan cepat dan kadang sedikit berlari mengitari Pura dan sesekali menyentuhkan kaki pada pondasi Pura.

Belum selesai penari wanita, para pria meluncur ke arah bawah melalui tangga dengan kecepatan maksimal.

Berdesakan sambil berteriak. Rupanya kecepatan lelaki lebih tinggi dan pegangan yan terlihat begitu kuat.

Walau satu dua terputus akibat kuatnya tarikan pasangan di sebelahnya yang berusaha maju lalu mengubah arah. Pegangan yang putus kemudian tersambung lagi diiringi teriakan menggugah semangat.

"Tradisi Ombak-ombak itu berjalan hingga tiga kali putaran hingga selesai dan menuju ke beberapa Pura untuk melakukan persembahyangan lagi sebelum tradisi Puncak yakni Siat Sampian." jelas Wayan Sudarsana selaku Pengayah Pura.

Tradisi Ombak-ombakan itu kata Gusti Made Muriastra sebagai Sekretaris Pengayah Pura Samuan Tiga ialah Ombak-ombakan (laut) yang upacaranya mengambil banyak hasil laut.

"Jadi ombak-ombakan itukan di laut ya, karena kita mengadakan upacara jadi kita mengambil semua hasil laut. Dan kita upacara-in laut juga. Kan sebelumnya kita sudah mepekelem di laut." kata Gusti.

Selain itu, tradisi itu melambangkan perbedaan tetapi di situ ada kebersamaan.

"Saling berpegangan tangan, dan berjalan, berteriak itu berarti kita berbeda tetapi saling berpegangan atau bahu-membahu dalam perbedaan itu. Di Indonesia, di Bali kita banyak berbeda tetapi kita bersatu dalam perbedaan itu." ujar Gusti.

Dalam tradisi tersebut kurang lebih 400 orang lelaki terlibat dan 80 perempuan. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help