Masih Ingat Peracun dan Pencuri Anjing di Singaraja? Begini Nasibnya Kini

Masih ingat dengan kasus peracunan anjing dengan nama pelaku Komang Widi Sari merta alias Ribut (41)?

Masih Ingat Peracun dan Pencuri Anjing di Singaraja? Begini Nasibnya Kini
Istimewa
Komang Widi Sari Merta alias Ribut (tidak pakai baju) saat diamankan warga Banjar Dinas Dharma Kerti, Desa Tukadmungga, Buleleng lantaran terbukti meracuni anjing milik warga setempat pada Minggu (22/4). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Masih ingat dengan kasus peracunan anjing dengan nama pelaku Komang Widi Sari merta alias Ribut (41)?

Pria asal Banjar Dinas Bangah, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng itu menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Singaraja, Bali, Rabu (2/5/2018) pukul 10.00 Wita.

Ribut menjalani sidang atas kasus pencurian anjing pertama, yang dilakukan di wilayah hukum Polsek Sukasada, atau lebih tepatnya di Dusun Mandul, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Jumat (23/3/2018).

Dalam persidangan yang dipimpin oleh hakim Made Adi Candra Purnawan, kasus pencurian anjing yang dilakukan oleh Ribut itu tergolong dalam tindak pidana ringan (tipiring).

Sehingga ia hanya dikenakan masa percobaan selama enam bulan.

Humas Pengadilan Negeri Singaraja, IB Bamadewa Pati Putra yang ditemui Kamis (3/5/2018) mengatakan, jika dalam masa percobaan selama enam bulan itu Ribut kembali tertangkap atas kasus yang sama, maka Ribut akan dijatuhkan pidana penjara selama satu bulan.

“Untuk kasus tipiring memang tidak bisa ditahan, penghukuman dikembalikan kepada Hakim melalui putusan denda atau percobaan,” kata dia.

Namun Bamadewa tidak menampik jika Ribut memang telah melakukan tindak pidana yang sama selama masa percobaan dapat dikenakan hukuman kurungan sesuai dengan putusan Hakim saat sidang putusan pertama.

Masa percobaan yang kini dijalani Ribut berlaku saat tangga ditetapkan putusan hakim.

Sementara itu, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Buleleng, dr Wayan Susila tidak menampik jika jumlah pedagang makanan dengan olahan daging anjing cukup banyak di Buleleng.

Menurut data ada sekitar 12 tempat makan yang menjual sate dan rawon yang terbuat dari daging anjing.

Dalam waktu dekat, imbuh Susila, pihaknya akan segera melakukan sosialisasi dan mengimbau kepada para penjual daging anjing agar segera mencari mata pencaharian lain.

"Daging anjing memang tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi. Dalam undang-undang itu tidak masuk dalam komoditi pangan," ungkapnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help