Puluhan Siswa SDN Temesi Keracunan, Hasil Uji Lab Ada 4 Jenis Bakteri, Sanitasi Kantin Jadi Sorotan

Dari hasil investigasi tim pihaknya telah memastikan adanya pengolahan bahan makanan yang tidak baik.

Puluhan Siswa SDN Temesi Keracunan, Hasil Uji Lab Ada 4 Jenis Bakteri, Sanitasi Kantin Jadi Sorotan
Tribun Bali / I Wayan Eri Gunarta
Sejumlah siswa SD 1 Temesi terbaring di UGD RSUD Sanjiwani Gianyar, Bali, Senin (7/5/2018) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Identifikasi penyebab keracunan yang dialami para siswa SD Negeri 1 Temesi, Gianyar, Bali, Senin (8/5/2018), dipastikan berasal dari bakteri yang terkandung pada bahan makanan dan minuman (mamin) yang mereka konsumsi di kantin sekolah tersebut.

Hasil uji sampel makanan di Laboratorium Kesehatan oleh tim surveillance penyehatan lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Selasa (8/5/2018), menyebutkan, terdapat empat kandungan jenis bakteri pada nasi bungkus beserta es kepal susu yang dikonsumsi siswa, yakni bakteri E. Coli, Stafilococus, Bacilus Cereus, dan Salmonella.

Hasil investigasi tim surveillance memastikan kandungan bakteri tidak hanya terdapat pada bahan minuman es kepal, namun juga pada bahan makanan nasi goreng yang terdiri dari nasi, sosis, beserta lauk lainnya.

Dilaporkan, dari 29 anak yang mengonsumsi es kepal, 15 anak mengalami keracunan dan harus dirawat di RSUD Sanjiwani Gianyar. Sementara, dari 31 anak yang mengonsumsi nasi goreng, ada 5 anak yang mengalami keracunan.

Kepala Dinkes Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, mengatakan dari hasil invesigasi tim pihaknya telah memastikan adanya pengolahan bahan makanan yang tidak baik.

"Kedua mamin, nasi bungkus dan es kepal susu diduga sudah basi, dikonsumsi dengan jangka waktu yang lama dari masa pembuatan sehingga jumlah bakteri juga semakin bertambah banyak," ungkapnya kepada Tribun Bali, Selasa (8/5).

Selain pada bahan makanan, juga ditemukan ketidaklayakan pada tempat pengolahan makanan. Berdasarkan uji analisis kelaikan fisik di lingkungan dapur kantin, tumbuhnya bakteri ini dipengaruhi oleh faktor tempat pengelolaan yang tidak memenuhi syarat kesehatan alias tidak higienis.

"Hasil observasi tim kami menemukan tempat pengelolaan tidak higienis di kantin tersebut, seperti tempat pengolahan limbah tidak memenuhi syarat kesehatan, serta penempatan bahan baku makanan diletakan pada lantai," terangnya.

Suarjaya menambahkan, keempat jenis bakteri berbahaya ini bisa berkembang melalui 4 analisis kemungkinan. "Bisa dari bahan makanan tersebut, alat masak makanan, air dan juga bisa dari penjamah (tukang masak) makanan. Semua sampel mulai bahan mamin, air hingga kondisi kantin sudah kita analisis," paparnya sembari menambahkan terkait kondisi pasien keracunan sudah membaik dan diperbolehkan pulang. 

Siswa Dipulangkan

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help